Letter For You

tumblr_lqc7k7nBy31qf276oo1_500

Aku menadahkan tangan merasakan rintik-rintik hujan yang turun dari langit, kupejamkan kedua mataku dalam kesendirian. Suara angin yang membawa hawa dingin di siang ini. Aku masih berdiri menikmati setiap anugerah-Nya dan membuat lengkungan indah di bibirku.

” Ayo kita masuk, nanti kalau kamu gak sembuh gimana?”. Ucap kakakku.

” Tapi aku masih ingin disini kak”. Jawabku tegas.

” Kakak tau apa yang lagi kamu fikirin.. ayo sekarang kita masuk”. ucapnya memaksa.

aku mengikuti langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar dan kembali beristirahat meninggalkan langit yang masih meneteskan rintik hujan. Aku melirik ke arah jendela, ada air yang mengalir disana. Bagaimana bisa aku mengutarakan semuanya? jika tidak ada yang mau mendengar. Suara derit pintu yang ditutup membuatku benar-benar merasakan kesendirian disini. Harapan, cinta, senyuman, dan suara tawa tak akan lagi ada dalam ruangan ini, ruangan yang penuh akan kesunyian dan kesendirian.

***

Ini bukan  pertama kalinya aku melihat wajah yang sangat mengagumkan hatiku. Aku tidak punya cukup keberanian untuk menyapanya, atau bahkan sedikit memberi senyuman manis sebagai pengganti ‘selamat pagi’. Bagiku ini pilihan yang sulit, Berhadapan dengannya membuat jantungku semakin berdebar saja. Aku pergi menjauhinya dengan wajah tertunduk malu, dia laki-laki yang cukup dikenal oleh beberapa orang disana. Dengan tubuh tinggi kekarnya, dan senyumnya yang khas menjadikan sosoknya terlihat begitu tampan dan mempesona. Memandangnya dari jauh seperti mengagumi sebuah lukisan yang ‘wah’, wanita mana yang tidak akan tertarik dengannya? seorang fotografer muda yang penuh semangat. Aku suka caranya memberikan motivasi pada orang-orang, apa yang ia ucapkan mampu membuat orang bangkit dari keterpurukannya. Suasana hujan yang dingin mengantarkanku pada sebuah cafe di sebrang jalan. Aku memesan secangkir hot chocolatte sambil memandangnya dari balik kaca besar yang tepat berhadapan dengannya.

“Secret admirer..? are you serious..?”. Ucap seseorang di depanku.

ada dua orang belia duduk disana, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang sedang marak dikalangan remaja yang saling jatuh cinta. Aku tidak begitu memperhatikan mereka, kecuali sebuah sentilan yang mengenai hatiku. Aku meneguk secangkir hot chocolatte dan berfikir mengenai perkataan itu. Aku menatap mereka berdua, sesekali meneguk kembali minuman hingga habis tak tersisa lalu pergi dari cafe itu.

***

“Pernah mencoba untuk menulis sesuatu seperti mereka?”. Ucap seseorang dari arah belakang.

“Untuk apa?”. Jawabku singkat.

“Untuk mengetahui jawabannya”. Ucapnya sambil memandangku.

“Memulai sesuatu yang sangat bodoh untuk dilakukan? “. Ucapku lirih.

“Hmm.. apa salahnya mencoba”. Ucapnya.

“Ok aku coba …”. Jawabku setengah tak yakin.

Tepat pukul 08.00 malam, aku berada di kamarku yang sunyi dan sepi. Mmembuka beberapa isi laci dan mengeluarkan sebuah kertas dan juga sebuah pena. Dalam dua jam lamanya aku berfikir dan menumpahkan segala isi hati, tapi selalu saja salah. Beberapa kertas berserakan dimana-mana, aku menyerah! tak ingin lagi memulainya! aku berbaring dan menutup seluruh wajahku dengan kedua tangan. Aku menghela nafas panjang, dan tidak meneruskan lagi sesuatu yang sedang kukerjakan dengan susah payah. Suara derit pintu terbuka, aku menoleh dengan cepatnya. Belum sempat kubereskan kertas yang berserakan, kakak sudah menertawaiku sambil menggelengkan kepalanya.

“Keep trying beby…”. Ucapnya menyemangatiku.

Ini gila..! benar-benar gila! aku tersenyum saat dia mengejekku dengan semangatnya. Aku tersenyum dan mengulangi setiap kata yang tersendat dalam bibirku, perlahan dan pasti hingga rasa ngantuk menjemputku malam ini. Aku tertidur setelah usai menulis beberapa kalimat kata terakhir tanpa melipatnya dengan rapih. Keesokan harinya aku terbangun dengan semangat yang menggebu, hari ini akan ada sebuah perayaan di pusat kota. Cuaca juga begitu indah, tidak ada salahnya untuk datang dan berjalan-jalan. Aku sudah cukup rapih, kuambil selembar kertas itu dan kusimpan dalam amplop berwarna merah. Dengan senyum diwajahku aku memberanikan diri untuk menyimpan surat itu ditempat yang seharusnya. Aku berjalan menyusuri jalan yang begitu ramai hingga tiba tepat di tempat yang penuh dengan orang-orang yang akan mengirimkan sebuah surat, mungkin lebih tepatnya surat cinta. Tapi menurutku ini adalah kantor pos terbuka yang pengirimnya sebagian besar anonim. Aku meletakkan sebuah surat yang kutulis semalam, awalnya aku ragu. Mungkin surat ini tidak akan sampai pada orang yang dituju, mungkin ya mungkin tidak..! aku menyelipkannya diantara surat-surat lainnya dan bergegas pergi menuju pusat kota tanpa memperdulikan lagi surat itu.

***

Aku sadar selama beberapa hari terakhir ini aku memang menunggu sesuatu yang mustahil, sudah 3hari lamanya aku menanti seseorang membalas suratku. Tapi rasanya aku memang terlalu banyak berharap. ‘Huft…’ aku menghela nafas dan kembali mencari sebuah hiburan dari televisi. Ini sangat membosankan! rasanya aku ingin berlari kencang dan melupakan semuanya. Suara ponselku berdering, Anabele menelfon dan mengajakku untuk berkujung ke pameran lukisannya. Aku setuju, memintanya menunggu beberapa saat untuk berganti pakaian dan bergegas pergi menemuinya. Sesampainya disana aku melihat seseorang dengan blazer coklat panjang sibuk memotret sana dan sini. Bisa kutebak siapa dia, aku melangkah perlahan, berhenti saat dia berbalik arah, aku mengalihkan pandanganku. Anabele memanggilku dengan lantangnya, aku pun berlari menghampirinya yang sedangberdiri bersama beberapa orang.

 Aku mengikuti kemanapun Anabele pergi, tapi lirikan mataku tetap tertuju pada satu arah. Kerumunan orang-orang akhirnya menghalangi setiap pandangan, aku pun tidak dapat melihatnya lagi. Aku cukup lelah berjalan di dalam ruangan yang besar seperti ini. Hari sudah sore, aku berpamitan pada Anabele. Ia tak henti-hentinya mengucap terimakasih padaku karena sudah menenaminya. Aku tersenyum dan pergi menuju rumah.

Aku mulai melupakan hari-hari yang telah berlalu, termasuk penantianku dan juga surat itu. Sudah tepat satu minggu Anabele bersama orang-orang yang mengerumuni lukisannya di pameran. Aku kembali datang dan melihatnya dari jauh, walaupun ruangan ini ber-AC tapi aku memilih untuk menjauh saja. Beberapa jam berlalu, aku sudah menghabiskan dua gelas minuman dan bersantai di salah satu kursi yang sudah disediakan. Hingga akhirnya aku pergi meninggalkan Anabele dan mencari udara segar diluar sana. Aku berdiri di depan aula, memandang langit dari kejauhan, lalu pulang ke rumah untuk beristirahat. Sesampainya di rumah, sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Kufikir itu hanya akal-akalannya kak Doni saja. Aku mengambil sepucuk surat berwarna merah muda dengan setangkai mawar merah disana. Kuambil dan kubawa ke dalam kamar. Aku menjatuhkan tubuhku yang lelah di atas tempat tidur smabil membaca isi surat yang tertuju padaku.

Seseorang mengirimkan sepucuk surat padaku satu minggu yang lalu..parasnya cantik, rambutnya terurai panjang dan begitu mempesona kerana tiupan angin. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, maukah nona bertemu denganku nanti malam.. ? ada yang ingin kusampaikan.. ini mengenai sesuatu yang sangat mendesak sekali.. aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk bicara banyak lagi.. temui aku di aula pukul 07.00 malam.

aku tertegun membaca isi surat itu, seperti ada yang membuat tubuhku lemas seketika. apa aku sedang bermimpi? apa mungkin kak Doni sedangmengerjaiku? tapi rasanya tidak mungkin. mungkinkah ….?

***

aku merapikan dress yang kupakai, berdandan di depan kaca rias. menggerai rambutku yang panjang, memberi sentuhan terakhir pada bibirku agar terlihat lebih menarik lagi. Aku berangkat menuju aula, masih satu jam lagi untuk sampai kesana, aku tidak perlu terburu-buru untuk segera sampai kesana. sesampainya di aula aku menemukan sebuah kertas yang menunjuk ke arah sebuah ruangan besar di sebelah aula. Kuikuti petunjuk itu hingga masuk ke alam sebuah ruangan sederhana yang penuh dengan foto-foto diriku. Aku tak percaya! bagaimana mungkin bisa semua foto ini menjadi pengisi ruangan. tidak hanya satu dan dua foto saja melainkan seluruh ruangan ini dipenuhi foto-fotoku. Aku masih memandangi semua foto yang terpajang dan tergantung di sana-sini, tanpa menyadari seseorang datang dan berdiri di belakangku.

“Aku gak punya banyak kesempatan untuk bicara, cuma ini yang bisa aku lakukan”. Ucapnya pelan.

Aku berbalik dan menatapnya dalam, aku tersenyum lalu tertunduk sesaat tak percaya dengan semua ini. Suratku terbalas, begitu juga dengan perasaanku. Aku tidak bisa berkata banyak, semua rasa berubah dan bercampur menjadi satu. Aku tetap membisu hanyut dalam tatapannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah surat dengan amplop berwarna putih. Aku mengambilnya dan membuka isi surat yang bertuliskan “I LOVE YOU” di dalamnya. Isak tangis bahagia terpecah saat ia memelukku erat dan berbisik hangat di telingaku “I love you mademoiselle”

Iklan

7 August…

Aku berjalan menyusuri tempat paling ramai disini, dengan headset yang terpasang di telinga aku berjalan menerobos angin yang menerbangkan rambutku kebelakang. Satu minggu setelah keberangkatannya ke luar kota memaksaku untuk berjalan sendiri hari ini, esok, dan seterusnya. Aku berdiri memandangi beberapa lukisan yang biasanya kami lihat berdua sepanjang jalan. Tempat yang selalu ia tawari untuk dilewati sebelum kami pulang ke rumah. Aku bahkan masih ingat dengan bangku panjang di sebrang jalan sana, dulu kami duduk berdua sambil menghabiskan ice cream di tangan. Atau sekedar menonton di bioskop langganan kami berdua, terlalu banyak kenangan bersamanya sehingga rasanya sulit untukku melupakannya secepat kilat menyambar. Rasanya aneh melewati hari-hari tanpanya, apalagi setelah pertengkaran hebat malam itu. Jujur aku masih sangat sakit untuk mengingatnya, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Malam itu menjadi malam terakhir kami bertemu sebelum ia pergi meninggalkanku disini sendiri.
Cuaca hari ini cukup mendukung, teriknya menerangi sudut-sudut kota yang gelap. Aku masih menikmati segelas ice cream pada cafe yang tidak jauh dari tempat-tempat lukisan yang baru saja kulihat tadi. ‘I think of you…I think of you…and it’s gone..’ nada pesan masuk kedalam ponselku. Aku sibuk mencarinya di dalam tas, seseorang yang sangat menyebalkan sudah mengirimiku pesan singkat dengan pertanyaan singkatnya ‘lagi apa???’. Aku tersenyum membaca isi pesan itu, ada sesuatu yang sangat mendesak sanubariku untuk berkata sesuatu padanya. Aku membalas pesan singkat segera ‘lagi makan ice cream..kamu lagi apa?’. Butuh beberapa detik untuk menunggu datangnya pesan balasan lagi darinya, aku menunggu sambil menghabiskan sedikit demi sedikit ice cream. Ponselku berbunyi kembali, aku membuka pesan darinya ‘kamu lagi dimana? Sama siapa? Maaf untuk masalah yang kemarin.. aku masih sayang kamu.. kamu maukan maafin aku?’. Aku tertegun sejenak membaca isi pesannya, keributan yang dipacu oleh orang ketiga hampir saja merusak hubungan yang kami jalin selama 4tahun belakangan ini. Kami berdua memang tidak mengakhiri hubungan diantara kami, rasa menyesal yang teramat dalam benar-benar ia tunjukkan saat itu, dan aku mencoba memberinya kesempatan lagi untuk memperbaiki segala sesuatu yang telah rusak. Aku mengambil ponselku dan menghubunginya hanya sekedar ingin mendengar suaranya dan melupakan apa yang telah terjadi.
“Halo.. sayang kamu lagi dimana?”
“Aku lagi di cafe sendirian, tempat biasa kita datangi”
“Iya..itu tempat favorit kamu kan, biasanya kamu seneng liat lukisan yang dipajang di sisi-sisi jalan raya, maafin aku ya sayang. Aku tau kamu masih kesel dan jengkel”
“Kamu masih inget ya ini tempat favorit aku? Dan paling sering kita datangin kalau kencan, iya aku maafin..tapi bukan berarti aku bener-bener maafin kamu ya.”
“Iya aku ngerti sayang..aku janji gak akan ngulang lagi kesalahan kayak gitu, aku khilaf..aku nyesel banget”
“Aku harap kamu bener-bener menyesal dan gak pernah mencoba untuk mengulaginya lagi. Setelah kamu buat kesalahan kamu malah pergi, apa kamu bener-bener mau tinggalin aku?”
“Aku sama sekali gak ada niat untuk tinggalin kamu, tapi kerjaan yang mendadak yang memaksa aku untuk tinggal disini. Kamu mau kan nunggu aku pulang?”
“Aku pasti nunggu kamu.., sampai kapanpun.. masih inget janji kamu??”
“Iya aku masih inget, aku janji datang untuk melamar kamu jadi istri aku. Aku bakalan usaha keras untuk itu, untuk masa depan kita.. aku janji..”
“Berapa tahun lagi..??”
“2 tahun lagi sayang… tunggu aku pulang ya?”
“Iya…aku pasti tunggu kamu pulang”
“Hmm..maaf sayang aku gak bisa ngobrol lama-lama, aku masih banyak urusan kerjaan. Kamu hati-hati ya? Kabarin aku kalau udah sampai rumah”.
“iya..nanti aku kabarin kalau udah dirumah, good luck honey…”
Aku menutup telpon, dan menyimpan ponselku di atas meja. Ada sesuatu yang sangat menggebu-gebu, entah hanya aku yang merasakan atau tidak. Tapi aku sangat berharap dia juga merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Ya.., perasaan ini mengangguku, bahkan sangat-sangat mengganggu. Walau aku membencinya, tapi jauh dalam lubuk hatiku aku sangat merindukannya. Aku memanggil pelayan yang sedang membersihkan meja dan membayar makanan yang kupesan tadi lalu pergi.
***
“Itu semua kan gara-gara kamu! aku Cuma ingin tau kejelasannya aja! Kamu yang berulah kenapa aku yang harusnya ngerti??”
“Dulu kamu juga gitu kan sayang…? kamu gak jujur sama aku! Awalnya aku emang gak jujur tapi pada akhirnya aku fikir lebih baik aku jujur, tapi kamu tetep gak percaya kan??”
“Alaaahhh…!!! itu sih bisa-bisanya kamu aja, jadi kamu mau balas dendam gitu sama aku?? Iya kan..??”
“Udah aku duga kamu pasti bilang gitu, aku sama sekali gak ada niat buat balas dendam sama kamu sayang”
“Udahlah aku ebner-bener gak sanggup kayak gini terus..! kalau kamu mau datang kesini jangan lupa AMBIL SEMUA BARANG YANG UDAH KAMU KASIH KE AKU…!!!”
“Kamu ngomong apa sih sayang…??”.
“Tuuutttt…… Tuuutttt….. Tuuutttt…..”
Pertengakaran diantara kami terjadi lagi, dengan sengaja aku menutup telepon dan menumpahkan semua amarah juga kesedihan dengan air mata yang bercucuran. Bagaimana perasaanku saat itu sepertinya lebih daripada sakit, terkadang aku menangis saat teringat dengannya. Apa hubungan kami benar-benar harus berhenti sampai disini saja? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya, kuharap semua ini tidak pernah terjadi. Malam hari aku duduk di depan meja rias memandangi wajahku yang semakin pucat dan terlihat sayu. ‘Apa aku kurang cantik..? apa aku kurang menarik…?’ ucapku dalam hati. Kulit putih dan rambut panjang yang tergerai ini terlihat snagat mengerikan bagiku. Aku menghabiskan beberapa menit di depan cermin rias, melihat bagian mana saja yang menurutku kurang menarik, mungkin fisikku membosankan dimatanya, atau mungkin apa ada tindakanku yang membuatnya merasa tidak nyaman?. Suara ketukan pintu mengagetkanku, mama membawakanku makan malam karena aku tidak juga turun bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
Mama meletakkan sepiring nasi dan segelas air di atas meja rias, aku menggeleng dan berkata tidak lapar. Tapi mama memaksaku untuk tetap memakannya, aku tidak punya pilihan lain. Mungkin ia sudah mencium kejanggalan diantara hubungan kami berdua, tak ada kata yang terucap. Sebelum mama meninggalkan ruangan aku memeluknya erat menyenderkan kepalaku dipelukannya sambil megigit bibirku sedikit untuk menahan tangis yang akan pecah. Aku berhasil menahannya, untunglah mama tidak menyuruhku memandang wajahnya, karena iar mataku sudah menggumpal dan akan segera terjatuh. Ia menutup pintu, seketika air mata pun berjatuhan. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan untuk menahan isak tangisnya. Dan lagi-lagi malam ini aku menangis. Bukan hal yang mudah untuk pergi begitu saja meninggalkan semua kenangan yang terlalu banyak tentangnya. Aku mencoba untuk tenang dan menghapus air mata yang membasahi kedua pipiku, dan memilih untuk beristirahat memaksakan mataku untuk terpejam dengan cepat, melewati malam-malam yang sangat sunyi.
***
Satu tahun berlalu, aku masih menunggunya dan berharap ia datang memenuhi semua janjinya. Aku merasakan air hujan yang membasahi tanganku yang menadah keluar jendela kamar, aku mengucap do’a dalam hati sambil memejamkan mata. Sebuah harapan besar yang kupinta pada Tuhan setiap hari. Aku membuka kelopak mata perlahan, satu hari lagi hari yang sangat kutunggu-tunggu, tapi sayangnya aku tidak dapat merayakan bersamanya. Tapi aku punya ide, bagaimana caranya agar kami masih bisa bersama pada hari itu walaupun jarak memisahkan kami berdua. Dengan penuh semangat aku mempersiapkan untuk hari esok. Aku mengambil jaket dan juga payung, bergegas pergi mencari bahan-bahan yang diperlukan. Berjalan pada udara yang dingin seperti ini membuatku begitu erat memegang payung berwarna pelangi ini. Aku masuk ke dalam salah satu toko dan mencari bahan-bahan yang kuperlukan. Aku tidak ingin membuat sesuatu yang besar, cukup yang sederhana saja agar tidak memakan banyak waktu dan juga bahan. Setelah membayar aku bergegas pergi pulang ke rumah.
Tak lama aku sampai di rumah, langsung saja aku mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Satu persatu bahan-bahan dimasukkan, hingga menjadi sebuah adonan yang pas. Satu jam, dua jam, aku masih mempersiapkan sebuah hadiah kecil untuknya. Setelah semuanya selesai, kini butuh sentuhan terakhir untuk mempercantiknya. Aku menghias adonan yang sudah berubah menjadi kue yang lezat dan juga nikmat dalam ukuran yang tidak terlalu besar. Tak lupa aku menaruh beberapa buah cherry diatasnya. Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberikan ini. Setelah semua selesai kubuat, aku menyimpannya dalam kulkas dan bergegas membersihkan diriku yang belepotan oleh cream.
Aku menghabiskan waktu untuk berdandan cantik malam ini, semua sudah siap, aku kembali mengambil kue yang berada di dalam kulkas. Menghiasnya dengan sentuhan terakhir, sebuah lilin berwarna merah memenuhi bagian-bagian yang sengaja kusiapkan dia atas kuenya. Waktu terus berjalan, aku membawanya menuju kamar sambil menyiapkan laptop dan juga korek api. Aku duduk di atas tempat tidur sambil berbincang melalui pesan singkat, tak sabar rasanya memberikan kejutan ini padanya. Aku tak ingin kehilangan satu-satunya yang berharga dalam hidupku. Kini tiba waktunya untuk memberikan sebuah surprise kecil untuknya, aku menyalakan lilin dan bersiap-siap duduk di depan laptop sambil menunggunya menerima panggian video call dariku. Aku memasang senyum manis sambil menunggunya, tepat jam 12 malam ketika wajahnya terlihat, aku langsung bernyanyi untuknya.
“Happy birthday to you.. happy birthday to you…happy birthday..happy birthday..happy birthday to you… selamat ulang tahun calon suamiku yang paling menyebalkan seduniaaa…”
“Ya ampun.. makasih banget sayang surprisenya.. sayang aku gak disana..”
“Aku sengaja buat kue dan siapin ini semua untuk kamu, jangan buang waktu.., let’s make a wish..”
“Hmm… ok,, I wish.. kedepannya kita baik-baik aja, aku selalu sayang kamu. sampai kapanpun itu perasaan aku gak akan pernah hilang buat kamu. selamanya.. untuk kamu… tapi tunggu.. tadi bilang aku nyebelin sedunia ya??? Iii jahat deh kamu sayang”
“Aminnnn… semoga kita bisa menghadapi semua cobaan. Hihi … emang ia nyebelin,, aku tiup lilinnya ya .. fffhhuuuuhhhhh”
“Terimakasih calon istriku yang paling cantik seduniaaaa… aku bener-bener janji gak akan macem-macem disini, Cuma satu macam aja .. kamu..”
“Gombal ya kamu.. tapi sayang ya kamu gak bisa makan kuenya”
“Serius sayang.. kamu cantik banget malam ini, gak apa-apa lain kali suapin ya”
“ok sayang..”
Malam itu menjadi malam yang indah dan tak terlupakan bagi kami berdua. Kami menghabiskan waktu dua jam lamanya sebelum mengakhiri pembicaraan, dan kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya di pagi hari. Sepertinya aku sudah mulai biasa lagi seperti sebelumnya, sebuah kepercayaan yang telah hancur oleh terpaan angin kini sudah mulai dibangun dan kokoh kembali seperti semula. Ia sering menghubungiku malam hari, hanya sekedar melepas kerinduan dan juga kepenatannya disana. Aku senang bisa mendengar lagi suaranya setiap malam, banyak hal yang kami bicarakan untuk sebuah mimpi yang akan segera terwujud.Tahun ini akan segera berakhir dan tergantikan oleh tahun-tahun yang baru. Sudah masuk tahun kedua aku sendiri disini tanpanya, siang itu aku pergi untuk berjalan-jalan sendirian. Duduk di sebuah kursi sambil menikmati segelas cappuchino float kesukaannya hingga sore menjelang. Lalu pulang kerumah seperti biasanya, senja yang indah untuk dinikmati. Aku menunggu bus datang dari sisi jalan raya, tak lama bus yang kutunggu pun datang, kebetulan sekali tidak terlalu penuh dan aku memilih untuk duduk di dekat jendela.
Beberapa menit perjalanan menuju rumah, aku turun dan berjalan sedikit untuk sampai rumah, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Aku tidak tau mobil siapa itu, aku terus berjalan dan sesampainya di depan rumah, aku melihat seseorang sedang berdiri bersandar sambil emmegang ponsel di tangannya. Aku diam, menghentikan langkahku dan berharap ini bukanlah sebuah bayangan semata. Aku melihatnya, orang yang selama ini kurindukan. Yang datang dan menungguku di depan rumah. Aku menghampirinya, ia mengelus halus rambutku, memelukku erat dna mencium keningku sambil berbisik ‘ aku kangen…’. Dia datang, benar-benar datang. Aku membalas pelukannya dan menyenderkan kepalaku pada bahunya. ‘ Aku gak mimpi kan? Ini bener-bener kamu ay..?’ucapku tidak percaya. Aku bisa merasakan desah nafasnya, sambil tertawa kecil ia berkata ‘Kamu gak mimpi, ini bener-bener aku..aku datang untuk penuhi semua janji aku sama kamu’. Tiba-tiba saja ia melepas pelukannya dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya sambil berlutut di hadapanku.
“Will you marry me….?”
“Of course… I will…”
Aku tak bisa menahan air mata kebahagiaan ini, aku memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Harus kuakui tak mudah mempertahankan cinta yang telah dijalin begitu lama, setiap perjalanan cinta pasti punya rintangannya sendiri. Dan hari ini aku membuktikannya, kekuatan cinta memang benar-benar ada.

Verona In Love

verona-in-love-diapo

Mentari bersinar terang menyinari alam sekitar, aku bangun dan membuka jendela kamarku sambil menghirup udara segar pagi ini. Sepertinya tidak akan turun hujan untuk kota seindah Verona. Suara bising dari kendaraan mulai terdengar, tanda aktifitas telah dimulai. Seseorang berdiri dan melambaikan kedua tangannya, sepertinya aku mengenalnya tapi siapa? Ya ampun..!! aku lupa hari ini aku harus pergi menuju aula untuk berlatih ballet bersama anggota yang lainnya. Ponselku berbunyi, tanda pesan masuk dari Dion. Isi pesan itu berisi bahwa ia datang untuk membawakanku makanan dan ia siap utnuk mengantarku menuju aula untuk berlatih. Aku tersenyum dan membalas pesan singkatnya dengan menjawab ‘iya’. Aku bergegas menuju pintu dan membukakan pintu untuknya. Dion datang dengan membawa beberapa makanan di motornya, kusambut ia dengan ejekan seperti biasanya. Tapi tunggu, ada yang aneh dengan penampilannya hari ini, Dion memakai pakaian sangat rapih, tidak seperti biasanya yang cuek dengan apa yang dipakainya. Aku tertawa kecil, Dion memperhatikan pakaiannya dan berkata ‘apa ada yang salah sama baju yang aku pakai?’, karena tak kuasa menahan tawa aku hanya menggeleng dan tersenyum.
Aku memberi isyarat kepadanya untuk masuk ke dalam, ia pergi ke dapur menyiapkan makanan di atas meja, sementara aku pergi mempersiapkan diri. Dion tau aku tak mungkin bolos utnuk berlatih, karena mimpiku yang ingin menjadi seorang ballerina dan masuk ke dalam tim utama. Aku berdiri di depan kaca, menyisir dan mengikat rambut panjangku. Semua selesai, kuambil tas dan pergi menuju meja makan. Saat menuruni tangga, kulihat Dion sedang asik memakan apel yang berada di tangannya. Aku sedikit memperhatikannya dari jauh, melihat wajah manisnya hingga ia sadar aku sedang berdiri di sisi tangga dan memperhatikannya dengan senyuman di wajahku. Dion tersipu malu dan mempersilahkanku untuk duduk. Menu favorit untuk sarapan pagi ini bersamanya, aku menikmati makanan itu hingga tak tersisa di atas piring. Dion beranjak dari tempat duduk dan menarik tanganku untuk segera berangkat, aku naik ke atas motor dan memakai helm, kami berdua pun segera pergi ke aula besar. Pemandangan yang cukup indah untuk dilewati berdua, mendadak Dion menghentikan motornya karena ada seorang anak kecil yang berlari dan nyaris saja kami tabrak. Kami berdua kaget hingga tanpa kusadari kedua tanganku telah memeluk erat tubuh Dion. Perlahan aku melepas tanganku, tapi tangan yang lain menahannya untuk tetap berada disana. Jantungku terasa berdegup kencang, aku memejamkan mata dan kami berdua pun sampai di aula. Dengan terburu-buru aku berlari dan segera mengganti pakaianku di ruang ganti. Entah kemana Dion pergi saat aku sedang berlatih demi mimpiku itu, rasa semangat yang tinggi memicu untuk terus berjuang dan berlatih. Memberikan kejutan bagi orang-orang yang takkan menyangkanya, bahwa di dalam diri ini ada suatu potensi yang sangat berharga untuk diabaikan begitu saja. Gerakan demi gerakan kutunjukkan kepada pelatih saat sedang pemilihan tim utama, satu persatu nama itu terpanggil. Aku tak sabar untuk mendegar namaku berikutnya, hingga setelah beberapa orang telah terpilih dan kini tinggal nama terakhir yang akan ia sebutkan. Dan nama itu adalah namaku yang menjadi tim terakhir dalam tim utama. Bahagia rasanya, dan pengorbanan Dion tidak sia-sia begitu saja sudah bersedia mengantarku hingga aku benar-benar menjadi apa yang telah kuimpikan. Latihan pun usai dengan pemilihan tim utama, aku melihat Dion berdiri dari balik jendela dengan senyum di bibirnya. Aku menghampirinya dan menceritakan apa yang telah terjadi tadi. Dion mengangguk, memberikan ucapan selamat dan memelukku sambil berkata ‘you are the one, that’s why I Love You, would you be my girl?’. Aku tertegun sejenak setelah mendegar ucapannya. Kulepas pelukannya, Dion mengangkat daguku hingga sepenuhnya wajahku menghadap wajahnya. Ia mencoba mencari jawaban atas ucapannya tadi, dengan senyuman di bibirku kujawab ‘yes I would..’. karena aku percaya dalam sebuah perjalanan tak selamanya kutemukan kesulitan, dan dibalik sebuah impian selalu ada cinta yang mengiringi perjalanannya.

Cintaku Di Denpasar Bali

 

savitriblog-prewedding17

Hiruk pikuk daerah perkotaan cukup membuatku penat, banyaknya schedule pekerjaan menambah pusing saja. Belum lagi papah yang terus mendesakku untuk menikahi seorang gadis yang tak pernah aku cintai. Jangankan untuk mencintainya, berjalan bersamanya saja aku sungkan sekali. Aku terduduk lemas di kursi sofa berwarna merah menyala di dekat jendela, memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan agar semua pekerjaanku tidak berantakan. Rasanya ingin sekali teriak, aku bersandar dan menghela nafas panjang mencoba menenangkan hatiku yang risau. Telefon genggamku berdering, ‘tidak salah lagi itu pasti Shena’ ucapku dalam hati. Tapi saat kulihat ternyata pesan itu datang dari Joni yang mengajakku untuk berlibur untuk beberapa saat. Ide yang bagus untuk melepas sejenak kepenatan yang ada saat ini, aku menghubunginya hingga kami berdua sepakat untuk merahasiakan ini dari siapapun, dan kami berdua pergi berlibur menuju kota Bali.
Dengan segera aku menyiapkan pakaianku, memasukkannya ke dalam koper besar. Seminggu dua minggu cukuplah untuk menenangkan diri disana, apalagi aku tidak sendiri karena ada Joni yang menemaniku. Lagi-lagi telefonku berdering, rupanya dia sudah berada di depan apartemenku. Aku melihatnya dari balik jendela, ternyata benar mobil hitam sudah terparkir disana. Tanpa berfikir lama aku langsung menuju keluar rumah dan masuk ke  dalam mobil.
“ Buru-buru banget sih lo.., kenapa?? Takut ketauan Shena ya?? Hahahaha”. Ucap Joni meledekku.
“ Rese lo Jon.. gue males banget ma tuh cewe..!! ngatur-ngatur mulu hidupnya, belum lagi dia manja! Dia pikir dia siapa?? Pacar bukan, calon istri bukan, heran deh gue. Dapet darimana sih papah dapet cewe macam begituan??”. Gerutuku kesal.
“ Udahlah.., yang penting kita Have fun sekarang.. iya gak??”. Ucap Joni sambil tersenyum lebar.
“ Iya..iya.. sip deh, thanks ya bro udah mau nemenin gue..”. Ucapku sambil menepuk-nepuk pundaknya.
“ So..Baliiiiiii Im cominggggg….!!!”. Ucap kami penuh semangat.
Mesin dinyalakan dan perjalanan pun dimulai, aku memutar music agar tak jenuh saat perjalanan. Melihat cuaca hari ini, sepertinya akan tetap cerah tak akan turun hujan. Baguslah sepertinya liburan kali ini akan menyenangkan tanpa adanya mereka para pengganggu. Dan aku pun bisa tertawa senang selama beberapa hari kedepan.
Mobil melaju cepat, beberapa kali kami singgah untuk beristirahat. Sampai akhirnya aku tertidur dan saat Joni membangunkanku, aku tersadar bahwa kami sudah sampai di penginapan. Tempatnya bagus, rapih, pelayanan pertama saat aku turun dari dalam mobil cukup menyenangkan. Mereka menyambut kami dengan sangat ramah, kamar nomer 11 menjadi tempat beristirahat kami.
“ Gimana?? Lo suka tempat ini”. Ucap Joni.
“ Gila.., pemandangannya bagus. Pinter banget ya tuh orang nempatin kita di kamar ini”. Ucapku tanpa memperhatikan Joni.
“ Pemandangan..??”. Ucap Joni heran.
“ Ia..pemandangan, coba lo liat kesini deh”. Ucapku sambil menarik tangan Joni.
“ Ahhh… bener-bener nih anak.. sakit nih orang!! Tapi asik juga sih..mana cantik-cantik lagi, hahahaha..”. Ucapnya bahagia.
“ Ah..tau gitu gue gak kasih tau lo aja!!”. Jawabku sinis.
“ Bagi-bagi rejeki napa sih Jemyyyy..”. Ucap Joni sambil tersenyum.
“ Huuu…dasar lo ga bisa liat cewe bening dikit..!!!”. Ucapku sambil pergi menuju tempat tidur.
Suara ketukan pintu terdengar setelah aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, aku menyuruh Joni utnuk membukakan pintu tapi ia sibuk memotret gadis-gadis yang sedang duduk itu. Dengan terpaksa aku membuka pintu tanpa memperdulikan siapa yang datang. Tapi sewaktu aku melihat kakinya, ia mengenakan samping. Aku menatapnya dari ujung kaki hingga raut wajahnya, ‘MasyaAllah…cantiknyaa..’ ucapku dalam hati. Dia benar-benar mempesona dan membuat jantungku berdegup kencang. Seperti terhipnotis oleh waktu, aku tertegun diam memandang wajahnya. Aku tersadar oleh lambaian tangannya, suaranya begitu lembut dan begitu enak di dengar. Dibuatnya aku malu dan gugup setengah mati seperti ini, dia mengantarkan handuk dan juga menawarkan makan siang untuk diantar atau tidak. Tentunya aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, aku mengambil handuk yang dibawanya, tanpa sengaja aku menyentuh sedikit jari-jemarinya dan rasanya aku semakin tidak karuan. Ia tertunduk malu dan bergegas untuk pergi dari hadapanku, tapi aku berhasil mencegahnya sampai aku tau siapa namanya.
“ Aku Jemy, boleh tau nama kamu siapa??”. Ucapku pelan.
“ Sa..saya ?? nama saya Raras, permisi”. Ucapnya lembut.
Belum puas aku memperhatikannya, Joni sudah mengagetkanku dan buyarlah sudah semuanya. Senyumnya penuh tanda tanya, aku hanya tersenyum saja sambil menggelengkan kepala. Joni tetap mendesakku untuk berkomentar tentang gadis tadi, aku menghela nafas panjang lalu berkata ‘dia cantik, mempesona’. Joni menepuk pundakku dan menutup pintu. Aku kembali berbaring di atas ranjang sambil membayangkan gadis tadi, tentunya Joni tau apa yang sedang kufikirkan. Dia terus saja menggodaku. Jam menunjukkan pukul 13.00, setelah beres membersihkan diri kami berdua mencari makan siang. Aku berharap lebih dapat bertemu dengan Raras lagi, satu-satunya gadis yang berhasil membuatku terpana. Dari sekian gadis yang pernah kutemui, baru kali ini aku merasakan rasa ingin tau yang teramat sangat tentang gadis yang kujumpai tadi. Akhirnya kami duduk di rumah makan tak jauh dari penginapan, seseorang datang memberikan menu makanan kepada kami. Lelaki paruh baya dengan gaya bicaranya yang khas, aku tak memperhatikannya hingga Joni mencubit tanganku dan aku berteriak kecil karenanya. Aku memberi isyarat ada apa padanya, Joni menunjuk ke arah seseorang yang sedang memberikan minuman kepada pengunjung di meja sana. Aku memperhatikannya, dan saat ia membalikkan tubuhnya, aku tau itu adalah Raras. Joni bertanya kepada lelaki paruh baya itu siapa gadis yang kami lihat tadi, lalu ia menjawab bahwa gadis itu adalah putrinya ‘Raras’. Aku yang sedang minum pun tersedak mendengar hal itu, Joni dan lelaki tua itu pun menjadi sedikit panik. Dengan santai aku berkata aku baik-baik saja, lelaki tua itu pamit dari hadapan kami berdua. Joni berkata bahwa lelaki paruh baya tadi adalah pemilik penginapan yang kami tempati, dan juga pemilik tempat makan ini. Dan itu berarti gadis tadi yang mengambil alih tempat ini, tidak mungkin ia tak berada disini ataupun di penginapan. Joni memang selalu dapat diandalkan dalam segala hal, termasuk dalam cinta.aku banyak mendengar tentang tempat ini darinya, sambil menunggu makanan aku mendengarkan semua ceritanya, tapi mungkin untuk mengetahui gadis itu aku harus turun tangan sendiri tanpa meminta bantuan darinya.
Setelah kami berdua menyantap makan siang, aku dan Joni berpisah. Ia memilih untuk beristirahat di kamar, sedangkan aku memilih untuk berjalan-jalan menikmati langit senja sore ini. Aku mengambil kamera dan menggantungkannya di leher, sambil berjalan mencari objek yang bagus untuk kuambil gambarnya. Aku menemukan sekelompok anak kecil yang berlarian dan bermain bola, aku mencoba mengambil gambar mereka semua, hingga tak tersadari sosok yang sedang berdiri di dekat gapura. Aku mencoba memotretnya dari jauh, mengambil semua senyuman yang terpasang di bibir manisnya. Dengan penuh keberanian aku mencoba mendekatinya dan mengambil gambarnya dari dekat. Tapi ia tertunduk malu dan pergi meninggalkanku begitu saja, aku tak sempat mencegahnya, lalu kuputuskan mengikutinya hingga penginapan.
Aku masuk ke dalam kamar, melihat kembali setiap hasil potretanku. Joni mendadak kepo dan langsung merebut kamera yang sedang kupegang. Bibirnya seolah tak mau berhenti menggoda saat melihat seluruh foto Raras yang kudapat tadi. Aku mengambilnya dan langsung memperhatikan setiap raut wajah gadis yang sudah mengambil hatiku ini. Sambil menggerutu Joni pergi keluar kamar, entah apa yang ia lakukan diluaran sana. Tapi yang sangat mengejutkan ketika pesan singkat masuk dan itu pesan singkat dari Joni yang mengatakan ia sedang dalam keadaan bahaya.
Aku sangat terkejut dan langsung menyusulnya keluar rumah, berlari hingga jalan raya. Saat aku melihat kearah sebrang, segerombol orang sedang menghadang seorang lelaki dan seorang wanita, dilihat dari cara berpakaiannya sepertinya itu Joni. Langsung saja aku menghadang mereka yang sedang memukuli Joni. Rasa kesal karena melihat Joni yang diperlakukan seperti itu membuatku diluar batas kesadaran dan langsung memukuli mereka semua hingga terjatuh ke tanah. Saat hendak memukuli mereka lagi, sebuah genggaman mencengkram kuat lenganku. Aku melihat ke arah samping, dengan wajah ketakutan Raras memeganggi tanganku dan menyuruhku untuk berhenti mengejar mereka yang sempat kabur sebelum kuhabisi. Aku dan Raras membawa Joni ke penginapan, ia mengobati luka Joni dan mengucapkan rasa terimakasihnya kepadaku dan Joni yang sudah menolongnya dari gangguan orang-orang tadi.
Entah apa yang akan terjadi jika saja aku tak datang menolong mereka berdua. Raras menceritakan kronologinya, sementara Joni masih terbaring mengompres luka lebam di pipinya.
“ Terimakasih sudah menolong saya”. Ucapnya padaku.
“ Sama-sama, yang penting kamu enggak kenapa-napa”. Ucapku sambil tersenyum.
“ Tapi.., temannya sampai terluka tadi, itu gara-gara saya”. Ucapnya penuh penyesalan.
“ Enggak apa-apa, yang penting kamu selamat Ras..”. Ucapku sambil tersenyum.
“ Mas Jemy sudah sangat baik terhadap saya, bagaimana saya harus membalasnya?”.
“ Kalau saya ingin tau kamu lebih dalam lagi.., boleh???”. Pintaku padanya.
“ Maksudnya mas Jemy ini apa ya?”. Tanya Raras.
“ Emmm.. enggak..,gini maksud saya tuh.. saya..mmmm”. ucapku gugup.
“ Gini gimana mas? Mas Jemy kok gugup gitu sih?”. Tanya Raras sambil tertawa kecil.
“ Apa ada yang marah kalau kita ngobrol berdua kaya gini?”. Ucapku memberanikan diri.
“ Enggak mas, mas Jemy tenang saja”. Ucapnya santai.
“ Serius ..??? pacarnya barangkali??”. ucapku tak percaya.
“ Saya enggak punya pacar”. Jawabnya polos.
Dengan rasa senang aku menarik nafas panjang dan mencoba memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya, belum sempat aku bicara, gangguan pun datang. Pemilik penginapan ini tau kejadian yang sudah menimpa anaknya dan juga Joni. Ia terlihat sangat mneghawatirkan Raras, berkali-kali ia mnegucapkan rasa terima kasih kepada kami berdua. Joni mencoba meyakinkan lelaki tua itu bahwa semua baik-baik saja. Hadiah yang sangat menarik kami dapat makan malam gratis sebagai ucapan terimakasih darinya.
Malam semakin larut, sudah beberapa hari kami berada disini. Apa kabar ya Jakarta? Aku memandang bulan, membayangkan raut wajah manis itu. Dia indah, sangat mempesona dan selalu menyita setiap pandangan orang yang memandang. Aku pergi menuju ranjang. Joni menegurku lagi, ia bertanya apa aku sedang memikirkan Raras lagi. Dan kujawab ‘iya’, sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada gadis Bali ini. Aku bertanya apa pendapatnya tentang Raras, ia berkomentar panjang lebar hingga semua ucapannya terhenti karena pengganggu. Shena terus menelfonku, aku menujukkan panggilan itu kepada Joni. Kami berdua jadi menguras fikiran untuk mencari alasan yang tepat untuk pengganggu ini.
Akhirnya Joni mengangkat telefon itu, ia terlihat sedikit gugup saat menjelaskan dimana kami berada. Tapi bukan Joni namanya jika tidak bisa memberikan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi Shena. Dengan ucapannya yang cukup menyayat hati ia berani memerintahkan Shena untuk tidak menggangguku lagi. Cukup mengejutkan untukku, belum ada yang berani melakukan ini untukku kecuali dia sahabat terbaikku yang siap menolong kapan saja. Kami pun tertaa bersama ketika Joni menceritakan apa yang Shena katakan setelah mendengar ucapannya itu, kami berdua yakin pasti dia akan mengadukan hal ini kepada papah. Tapi kami tak memperdulikannya dan bersiap untuk tidur setelah tertawa bersama.
Pagi menyambut hari kami berdua, tak terasa sudah satu minggu kami disini. Saat aku sedang membaca majalah, tiba-tiba Joni datang membawakan secangkir teh hangat untukku.
“ Secangkir teh hangat untuk bos besar”. Ucapnya sambil tersenyum.
“Apaan sih, minta naik gaji???”. Ucapku meledeknya.
“Hahahahaha bisa aja lo, eh ngomong-ngomong kita udah satu minggu disini, lo gak pengen balik gitu ke Jakarta?”. Ucap Joni.
“Pingin sih tapi…”. ucapku sambil berfikir.
“Tapi lo gak mau ninggalin cinta lo disini kaaaannnnn…???”. Ucapnya santai.
“Bisa aja lo, tapi bener juga sih”. Jawabku.
“Kalau gitu, yaudah lo nyatain cinta lo sekarang. Daripada tar lo nyesel lagi”. Ucap Joni meyakinkanku.
“Gimana caranya ya??”. Tanyaku pada Joni.
“Itu masalah gampang, biar gue yang atur”. Ucapnya tegas.
Setelah beberapa saat kami berdua berbicara, aku berjalan-jalan mencari Raras untuk segera menyatakan cintaku padanya sebelum kami pulang ke Jakarta besok. Aku mencarinya di dekat penginapan, di rumah makan, di dekat gapura, tapi ia tak ada. Sedikit putus asa aku pergi menuju pantai hingga sore hari. Kumainkan handphone berharap Joni memberi kabar tentang Raras. Handphoneku berbunyi, ternyata itu dari papah. Aku menjawab panggilannya, aku tak mengerti apa yang terjadi padanya, papah sadar selama ini sudah memaksaku untuk menikahi seseorang yang tidak pernah kucintai hanya karena ia bersahabat dengan ayah Shena. Aku tak banyak bicara, tapi papah berhasil membuatku memecahkan kediamannku dnegan mengatakan sesuatu.
‘papah tidak akan memaksamu lagi Jemy, carilah siapapun dia, darimanapun dia, kehadapan papah nak. Maafkan papah’. Ucap papah.
Ucapan papah benar-benar membuatku berubah dan bertambah semangat untuk mengejar cintaku pada gadis Bali ini, setelah panjang lebar kami bicara melalui telefon, aku menutup telefon dan mencari Raras. Baru aku berdiri dan hendak melangkah, Joni berdiri di hadapanku dan mengangkat alisnya sambil tersenyum. Aku tidak mengerti, tapi saat tubuhnya menyingkir, sesosok gadis Bali berdiri dengan wajah yang tertunduk malu disana. Joni pergi meninggalkan kami berdua, aku mendekati wajahnya yang tersipu malu. Aku tak dapat menghentikan senyum dari bibirku, berharap semuanya berjalan dengan sempurna. Dan aku dapat menyatakan perasaanku, dan menepati janjiku kepada papah untuk membawa mempelaiku atang kehadapannya.
“Mas Jemy mencari saya?”. Ucapnya memulai percakapan.
“Iya..tapi kamu gak ada dimana-mana, saya jadi putus asa. Terus saya diem disini. Tapi ternyata cintaku datang sendiri”. Ucapku sambil tersenyum.
“Saya sudah ada di hadapan mas Jemy sekarang, saya juga sudah dengar semuanya dari mas Joni”. Ucapnya malu.
“Dengar semuanya..?? saya gak ngerti Ras”. Tanyaku tak mengerti.
“Mas Joni sudah menceritakan semuanya pada saya dan aji di penginapan tadi, ia mewakili mas untuk melamar saya”. Jawabnya tersipu malu.
“Ja..jadi.. kamu..”.
“Iya mas.. “. Jawabnya tersipu malu.
“Maukah kamu menjadi pendamping saya? Hidup bersama saya hingga maut memisahkan kita berdua? Hidup susah dan senang bersama..??”. Ucapku sambil berlutut di hadapan Raras.
Raras mengagguk menjawab permintaanku, aku bahagia sekali mendengarnya. Kupeluk ia dalam dekapanku, kubisikkan bahwa aku sangat mencintainya dan berjanji akan membahagiakannya. Joni datang dan memberikan ucapan selamat padaku. Aku berhutang sekali padanya, dia benar-benar sahabat yang baik. Ternyata ada campur tangannya dibalik perubahan papah, dan Raras dapat kumiliki itu semua berkat Joni.
Setelah aku memberitaukan niat baikku kepada kedua orang tua Raras, kudapati restu mereka untuk membawa Raras ke Jakarta bertemu kedua Orang tuaku. Kini janjiku telah terpenuhi, semuanya berjalan sesuai dengan harapanku. Kami akhirnya menikah dan hidup bersama di kota kelahiran Raras, Denpasar Bali.

When You Say ” I LOVE YOU “

this ok

Ada Cinta dibalik hati yang diam.. Ada sebuah penantian dibalik genggaman tangannya..”

Ini bukan untuk pertama kalinya seorang cowok bertubuh tinggi kekar berkulit putih dan berambut lurus itu membangunkanku setiap pukul 06.00 pagi. Suara nyaringnya yang khas selalu menjadi alaram hidup setiap hari, terkadang cerewetnya melebihi seorang wanita.

“Mau sampai kapan tidur nona…??” ucap Ken.

“Ia … ia … gue bangunnnn” jawabku lirih.

“Hari ini mesti kerja kan? lo dedline kan ? jangan bilang lo males ya? gue uda susah payah bangunin lo pagi buta gini.” Ucap Ken.

“Iiiaaa .. gantenggg, cerewet banget sih lo, gue siap-siap dulu ya” jawabku.

Aku menutup telepon dan bergegas menuju kamar mandi lalu mempersiapkan semua bahan yang akan kubawa hari ini. jam menunjukkan pukul 06.30, sambil memakan sarapan pagiku aku mempersiapkan semua berkas yang akan kubawa hari ini. Satu persatu tulisan naskah kuperiksa kembali, sekilas terlintas wajah Ken dalam ingatanku. Entah mengapa tiba-tiba wajahnya kuingat seketika. Terkadang aku senang dengan tingkahnya yang sangat menyebalkan itu, pengganggu ulung yang terbilang tampan pemilik toko bunga ‘Flowers Heart’ dekat persimpangan jalan itu. Seketika aku terbangun dari lamunanku tentangnya, sambil melihat jam aku berlari-lari kecil menuju tempat kerja.

                                                                            ***
“Naskah macam apa ini?? naskah ini menyimpang. tidak akurat! perbaiki kembali…!!!!”

“Tapi bu, ini sesuai fakta dan nyata”.Jawabku tegas.

“Saya tidak mau tahu!”. Ucapnya.

“Baik bu”. Jawabku pasrah.

Ini gila …!!! pemimpin redaksi yang cukup menakutkan dan sulit untuk ditaklukan. Harus seperti apa naskah yang diinginkan? rasanya hariku buruk khususnya hari ini. Selesai mengerjakan semua pekerjaan aku berjalan menuju keramaian kota untuk sejenak menikmati suasana senja. Sesekali aku melihat beberapa anak yang berlarian dan juga bermain, ada juga yang datang bersama kerabat ataupun keluarga. Tapi aku hanya datang sendirian, maka kuputuskan untuk membeli Ice cream dan segelas Orange float di cafe sana. mungkin itu jauh akan membuat suasana hatiku membaik. Aku membuka pintu, suara sapaan selamat datang menyambutku. Aku tersenyum dan duduk di meja nomer 11, pelayan datang memberikan beberapa tawaran menu terbaru untuk kucoba. Tapi aku memilih untuk memesan pilihan kesukaanku, aku duduk di dekat jendela. Sambil menikmati suasana sore hari yang cerah dan indah walau tak seindah hariku sekarang, aku membukan tas dan mengeluarkan camera kesayanganku. Mencoba memeriksa semua foto yang ada di dalamnya, beberapa merupakan tugas jurnalku, dan beberapa merupakan hobi saja. Tapi disela-sela foto ini terdapat satu foto yang sempat menyita fikiranku sesaat. Ya, sosok lelaki gagah yang sedang berdiri dengan senyum manisnya menjadi salah satu koleksiku. Aku tersenyum kecil, dan tersadar setelah pesananku telah datang.

Kenikmatan yang diberikan oleh Ice cream buatan cafe ini mampu membuat suasana hatiku jauh lebih baik. Saat aku melihat ke arah jendela, seorang lelaki dengan sangat terburu-buru berjalan menyusuri jalanan. Sepertinya itu Ken, tapi pertanyaan selanjutnya siapa perempuan yang mengejarnya itu?. Setauku Ken belum pernah punya pacar, apalagi deketin cewek. Aku ingin mengirimkan pesan singkat pada Ken, tapi aku takut mengganggu acara mereka. Jangan-jangan benar tebakanku kalau perempuan itu memang pacar Ken. Tapi ken enggak pernah cerita sedikit pun mengenai perempuan itu, ataupun sesuatu yang berhubungan dengan perempuan lainnya. Tanpa berfikir panjang aku tidak memperdulikan mereka berdua lagi kecuali sesuatu yang kurasakan dan menjadi pengganggu hatiku.

***

Kubaringkan tubuhku di tempat tidur setelah melakukan aktifitas seharian yang cukup melelahkan. Entah kenapa aku jadi memikirkan Ken, perasaan hatiku yang tak karuan karenanya membuatku semakin penasaran dengan kondisinya. Apa Ken baik-baik saja atau malah sebaliknya, handphoneku berbunyi tanda sebuah pesan masuk datang. Aku membukanya, sms dari Ken. Jarang-jarang sih Ken tanya apa aku ada waktu atau enggak. Biasanya jga dia langsung nyelonong aja, dimanapun aku pergi pasti ada Ken. Tapi akhir-akhir ini kami berdua jarang menghabiskan waktu bersama lagi.

Kufikir lebih baik aku menemuinya di rumah, sepertinya kondisinya lagi kurang baik. Di perjalanan, aku mampir ke sebuah toko kue kesukaan Ken. Brownies coklat dengan taburan almond seperti yang biasa Ken minta saat aku sedang dalam perjalanan. Tak beberapa lama aku sampai di depan rumahnya, tapi sebuah Honda Jazz berwarna merah telah lebih dulu berhenti di depan rumahnya. Aku berjalan menuju pintu, seseorang dengan gaya glamour bak artis keluar dari dalam mobil. Wajahnya mirip dengan perempuan yang tadi sore kulihat bersama Ken di dekat cafe. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih dan rambutnya terurai panjang hingga bahu. Ia menghampiriku,membuka kacamatanya dan melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku memang tidak semodis dia, tapi gayanya cukup membuatku berkata ‘WOW’.

“Kamu siapa? kok malam-malam gini ada di rumah Ken?”. Ucap perempuan itu.

“Gue temennya Ken, nama gue Tya”. Ucapku singkat.

“Oh gitu, kenalin nama gue Cindy”. Ucapnya tegas.

“Pacarnya Ken?”. Tanyaku sinis.

“Hmm belum jadi pacar sih, tapi sebentar lagi jadian kok. Nih kebetulan aku lewat sini, uda gitu mampir deh kesini sekalian bawain makanan buat Ken”. Jawabnya manja.

Aku mengangguk dan membunyikan bel hingga salah satu pembantu dirumahnya membukakan pintu. Setelah pembantunya membukakan ointu dan memberikan sapaan hangat selamat malam untukku, aku langsung bergegas masuk dan menemui Ken tanpa memperdulikan perempuan yang sedang berdiri di depan pintu. Aku mengetuk kamar ken, dan memanggil namanya pelan. Ken berteriak memerintahkanku untuk masuk ke dalam, suara derit pintu terdengar jelas. Kulihat Ken terbaring dengan wajah yang sangat menyebalkan, aku tertawa dan mencoba meledeknya. Tapi Ken malah berbalik marah. Aku duduk di samping Ken, mencoba mencairkan suasana dengan memberikan sekotak Brownies almond kesukaannya. Ken tersenyum dan memelukku erat sambil mengucapkan terima kasih yang tak henti-hentinya. Belum sempat aku memberitaunya tentang kedatangan Cindy, Cindy sudah berdiri di depan pintu dn mlihat Ken yang memelukku erat.

Ken yang kaget melepaskan pelukannya, dan raut wajahnya berubah seketika. Aku merasa tidak enak padanya, kufikir aku hanyalah pengganggu dalam hubungan mereka jadi kuputuskan untuk berpamitan pulang, tapi ken menarik tanganku dan menyuruhku untuk tetap tinggal disana. Ken mempersilahkan Cindy yang terlihat kesal masuk ke dalam. Ken sedikit sinis memang saat berhadapan dengan Cindy, tapi ia terlihat mencoba menarik perhatian Ken dengan menanyakan hubungan kami berdua. Wow, she’s get jelous I think.., aku yang serba salah berpamitan pulang. Ken mencoba menhanku tapi aku berlari hingga jalan, dan Ken tidak terlihat lagi. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan berdua disana, tapi sesuatu sedang menggerogoti hati dan fikiranku sekarang. Apa aku jatuh cinta ..?

***

Kuteguk beberapa gela air sebelum aku berangkat kerja. Tidak biasanya Ken tidak membangunkanku di pagi hari, pesan singkat selamat pagi pun tak ada. Lagi-lagi sebuah pertanyaan besar muncul dan beradu menjadi satu dalam fikiranku. Aku mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa, aku bergegas pergibekerja dan meninggalkan semua tentang Ken. Jam terus berjalan hingga tengah hari, aku masih saja melirik ke arah handphoneku yang sepi tak ada satu pesan pu n yang masuk kesana. Saat aku beranjak dari tempat duduk untuk mengambil air minum, handponeku berbunyi. Segera aku mengambilnya dan membuka pesan itu, tapi pesan itu bukan datang dari Ken, melainkan sebuah pesan agar aku segera masuk ke ruang rapat.

Rapat berlangsung hingga pukul 15.30, selama rapat berlangsung aku sama sekali tidak dapat  berkonsentrasi dengan hasil rapat yang ditentukan. tak ada yang kufikirkan selain Ken, ini gila dan diluar batas kesadaranku. Setelah semua beres, aku pergi menuju rumah Ken. Tapi saat sedang berjalan, sebuah Honda Jazz merah berhenti di hadapanku. Cindy keluar dari dalam mobil, berdiri di hadapanku dan mencoba mengancamku. Ia ingin agar aku menjauhi Ken dan tak lagi mengganggunya, aku tak mengerti dengan mereka berdua.  Apa mungkin perubahan pada Ken juga karena Cindy. Aku terdiam setelah Cindy pergi, kulanjutkan perjalnanku menuju rumah Ken hingga kedepan pintu rumahnya. Saat hendak membunyikan bel, aku menarik kembali tanganku dan bergegegas pergi dari rumahnya. Sesorang memanggil namaku, pembantu di rumah Ken berlari-lari mengejarku. Ia memberikanku sebuah surat yang ditujukan untukku, ia menemukannya di kamar ken. Dan kini Ken sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Aku membuka surat itu, membacanya hingga akhir. Dan surat itu berisi tentang semua perasaannya padaku.

Dear my lovely girl tya..

      Selama tiga tahun kita bersama..suka dan duka yang telah kita lalui bersama buat aku jauh lebih mengerti tentang siapa, dan untuk apa kamu hadir dalam kehidupan aku selama ini. Tuhan mempertemukan kita dalam sebuah pesta, kamu tau?? kalau aja kamu gak nabrak aku dan buat baju putih aku kotor, mungkin kita gak akan bisa dekat seperti sekarang ini. Kamu perempuan paling tomboy dan susah diatur yang pernah aku kenal, kamu perempuan kedua yang selalu buat aku khawatir setelah almarhum mamaku gak ada.. kamu tau gak? setiap malam aku berdo’a agar diberi umur panjang supaya bisa melanjutkan hidup dengan orang yang aku cintai..

     Kalaupun memang ada perempuan yang harus kunikahi.. udah pasti orang itu adalah “kamu”. Cuma kamu yang mampu buat aku ketawa lepas selama ini. Mengenai masalah kemarin aku harap kamu gak marah, aku pergi untuk beli sebuah cincin berlian untuk ngelamar kamu hari ini. Tapi.., sewaktu aku mau pergi aku gak sengaja ketemu Cindy. Dia peremuan yang temen aku jodohin, tapi aku gak cinta sama dia karena di hati aku hanya ada satu nama yang akan abadi selamanya…

yaitu..

Aristya Pratama ….”

                                                                                     ***

     Air mata yang tak tertahankan lagi mengalir deras membasahi wajahku, aku berlari mencari kediaman ken. Aku sampai di Rumah sakit, kulihat keluarga Ken sedang menunggu dengan resahnya. Dokter keluar dari dalam ruangan memberikan kabar yang burukk bagi keluarga Ken. Aku berjalan mendekat, entah bagaimana aku sekarang aku tidak peduli, yang kuinginkan hanyalah melihat Ken membuka matanya dan dapat tersenyum lagi. Ayah Ken mencoba membuatku berehenti menangis, tapi air mata ini mendesak untuk terus mengalir tak berhenti. Pelukan seorang ayah yang kurasakan menjadi penopang kesedihan yang mendalam.  Ia berkata Ken menitipkan sesuatu yang harus diserahkan padaku, aku menggeleng dan terus menagis hingga dokter mengijinkanku untuk melihat Ken di dalam sana.

     Aku membelai wajahnya, memperhatikan matanya yang tertutup rapat. Aku memanggil namanya, memintanya untuk bangun dan membuka matanya. Ayah Ken datang dan memberikan sebuah kotak berwarna merah, aku membukanya dan benar memang, sebuah cincin berlian yang sangat indah berada disana. Ayah Ken mengutarakan maksud baik Ken, aku mengangguk dan menggenggam tangan Ken erat. Kucium tangannya, kupanggil namanya, tapi ia juga bangun. Ayah Ken membawaku keluar dan menenangkanku di kursi, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi selain menggenggam erat tangan ayah Ken yang masih bersedia mendampingiku di depan kamar itu. Dokter datang bersama dengan suster memeriksa kondisi Ken. Aku berdo’a kepada Tuhan Yang Maha ESA, meminta kuasanya untuk kesempatan kedua agar aku dapat memperjuangkan cintaku.

     Jam terus berjalan, aku masih menunggunya. Ayahnya juga terlihat begitu resah menantikan kabar anaknya, akhirnya dokter datang dan memberikan sebuah kabar kepada kemi berdua. Sungguh suatu mukjizat Tuhan, aku melihat Ken tersenyum memandangku. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk meraihku, aku menggenggam tangannya dan meletakkannya di pipi kananku. Ken tersenyum dan menghapus air mataku yang masih mengalir.

” Tyaa..aku mau kamu jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku.. apa kamu bersedia menikah sama aku dan hidup sama aku?? sesuai janjiku hari ini aku bakal lamar kamu untuk jadi istri aku..”. Ucap Ken lirih.

” Ia..Ia aku mau Ken, jangan tinggalin aku lagi..”. Ucapku sambil tersenyum.

     Ken memasangkan cincin berlian di jariku, aku mencium keningnya. Dan mulai saat itu aku berjanji untuk terus berada disisinya apapun kondisinya, bagaimanapun situasinya, dan untuk masa depan yang cerah aku siap  mendampinginya selalu sebagai seorang istri.

Aluna : Bagian 2

Akhirnya mereka pun berlatih tanpa gadis itu, mereka berlatih sesuai karakternya masing-masing. Aku menari hingga senja datang kembali, Dennis masih setia menemaniku disini. Memperhatikan setiap gerakan yang sesuai dengan dentingan piano. Pemain piano itu menghentikan permainannya, semua penari bersiap untuk pulang, rasanya enggan melangkahkan kaki meninggalkan aula besar ini. Dennis bangun dari tempat duduknya dan berdiri tegak menandakan aku harus pulang sekarang. Ia mengulurkan tangan, aku menggengam tangannya dan mengikuti setiap langkahnya. Saat melewati taman dan sungai kecil di sebrang jalan, Dennis menunjukkan sesuatu padaku. Telunjuknya mengarah kepada langit senja yang membentang indah di langit sana. Aku tak mengerti apa maksudnya, kini wajahnya tepat berada di depan wajahku.
“Indah bukan..?”. Tanya Dennis kepadaku.
“Ya..sangat indah. Tapi, mengapa kau membawaku kesini?”. Tanyaku kepadanya.

“Kau tahu..? belum pernah aku mendapatkan kebahagiaan seperti saat sedang berada disisimu Aluna. Melewati waktu bersama, dan melakukan banyak hal yang istimewa”. Ucap Dennis.

“Benarkah..?”. Tanyaku penuh rasa ingin tahu.

“Ya..”. Jawabnya perlahan.

“Kau tahu Aluna..? kau seperti senja yang membentang itu, kau sangat mempesona”. Ucapnya sambil tersenyum.

“A..aku..? ti..tidak Dennis. Aku bukanlah seorang yang istimewa”. Jawabku pelan.

“Percayalah Aluna..kau adalah senja yang dapat memukau setiap pandangan mata yang melihat. Kau adalah senja yang akan selalu memberi warna jingga pada langit biru. Kau mempesona”. Ucap Dennis.

“Bukan jingga yang membuatnya menjadi indah, tapi langit birunya yang membuatnya indah”. Jawabku tersipu malu.

“Karena kau adalah alunan lagu dalam sanubariku, titik cahaya terang dalam gelapku, penyemangat dalam asaku, penguat dalam sakitku, karena kau adalah Alunaku..”. Ucap Dennis.

Aku diam terpaku menatapnya, semilir angin membelai rambut hitamku perlahan. Membiarkannya tergerai bebas kesana-kemari mengikuti arah angin. Dennis mendekatiku, membisikkan sesuatu di telinga kiriku.  ‘I love you Aluna’ ucap Dennis perlahan. Seperti terbawa angin, aku merasakan sesuatu telah menembus dadaku dan membawaku kedalam dunia yang asing. Ini seperti mimpi di sore hari, aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Kata-kata seperti apa yang mampu melukiskan perasaanku sekarang, kekosongan dalam diri ini seperti terisi penuh. Aku seperti menemukan sesuatu yang tidak kutemukan selama ini, tak perlu aku mencarinya sampai ke penjuru dunia karena ia telah bersamaku disini. Apa ini yang dinamakan cinta?, mungkinkah orang itu adalah Dennis?, aku memeluknya dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Dennis membelai rambutku, dan senja ini adalah senja yang paling indah. Aku menatapnya dan menggenggam tangannya kuat, kami berdua pun pulang ke rumah.
Sepertinya semua sudah berada di dalam rumah. Ketika aku membuka pintu, Edward berlari ke arahku dan menarik kedua tanganku ke dalam ruangan Ibu Jose. Ibu Jose duduk sambil menjahit sebuah baju. Kami berdua berdiri tepat di hadapannya, Ibu Jose tidak melirik sama sekali. Kemudian ia mengangkat baju itu dan mencocokkannya tepat di tubuhku. Aku tidak melihat jelas baju apa yang sedang ia genggam sekarang, lalu ia tersenyum sambil berkata ‘indah sekali’. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia katakan, baju baru untukku? Aku terdiam memandangnya. Ibu Jose membetulkan kacamatanya, sesekali tersenyum sambil memandangiku dan juga baju itu. Aku bertanya apakah baju itu untukku dan Ibu mengangguk, lalu aku bertanya lagi apa itu baju baru untukku, tapi ibu menggelengkan kepalanya lalu berkata bahwa baju ini untuk kupakai saat audisi ballet nanti. Aku sangat terkejut dengan perkataan Ibu tadi, ia menunjukkan baju itu dan juga selebar kertas berisi pengumuman padaku.
Aku membaca isi pengumuman itu, aku memeluk Ibu Jose sambil mengucapkan terima kasih karena telah mengijinkanku untuk mengikuti audisi itu. Ibu Jose mencium keningku dan membelai lembut wajahku perlahan dari dahi hingga ke dagu.

“Melangkahlah sesuai dengan irama lagu nak, buat semua anganmu berubah menjadi nyata. Pandanglah langit jauh disana, kau akan tahu siapa jati dirimu sebenarnya”. Ucap Ibu Jose kepadaku.

“Aku akan melakukan yang terbaik bu.. aku berjanji”. Ucapku.

“Kau yang terbaik anakku.. buatlah orang-orang yang menyayangimu bangga. Tunjukkan pada dunia kaulah yang terbaik, berlatihlah selama kakimu masih bisa melangkah. Sekarang pergilah bersihkan dirimu”. Pinta Ibu Jose.

“Baik bu.. aku akan segera kembali”. Ucapku pada Ibu Jose.

Aku memperhatikan baju ballet yang kupegang, baju yang simple tapi sangat elegan. Aku menyukainya, aku menggantung baju itu di dalam lemari lalu pergi bersiap-siap untuk makan malam. Semua sudah tampak rapi di ruangan meja makan, Ibu Rena membagikan makan malam kami. Gelak tawa pun terdengar seketika saat Ibu Rena menepuk bahu Dennis yang terlihat sangat mengantuk sehingga tertidur di meja makan. Kami semua pun menghabiskan makan malam bersama dengan penuh keceriaan, hingga semua pergi menuju tempat tidur mereka masing-masing dan tertidur denga nyenyak. Aku memandang langit sebelum tidur malam ini, berharap semua akan berjalan lancar sesuai dengan keinginanku. Sepertinya hanya aku saja yang belum tertidur, aku memperhatikan wajah-wajah yang sedang tertidur pulas. Mereka.., orang-orang yang menyayangiku dan memberikan warna dalam kehidupanku. Aku sangat menyayangi mereka semua, aku berdoa dalam sunyinya malam ini agar tak mengecewakan mereka yang telah menyayangiku, lalu berbaring dan menarik selimut untuk menutup dinginnya malam ini dan segera memejamkan mata.
Waktu terus berjalan, semua sudah siap dengan aktifitasnya masing-masing. Aku masih belum melihat Dennis pagi ini, setelah selesai menjemur pakaian aku mencoba mencarinya, barangkali saja ia sedang berada di dekat rumah. Aku berjalan hingga berada di kerumunan keramaian kota, aku pergi mencarinya ke dermaga tetapi ia tak ada juga disana. Terdengar suara paman Jannet dari arah belakang memanggil-memanggil namaku. Aku menoleh ke arahnya dan menghampirinya hingga tepat berada di depan dagangannya. Paman Jannet memberiku satu keranjang berisi apel merah, ia berkata ia baru saja memetiknya dari kebun. Adik-adikku pasti sangat senang, apalagi Dennis karena ia memang sangat menyukai apel merah. Tapi setelah aku berpamitan kepadanya ia mencegahku dan memberikan sebuah kotak yang tak boleh kubuka di tempat itu. Ia berkata ia ingin melihatku memakai benda itu, mendengar ucapannya aku jadi sangat penasaran dan bergegas pulang kerumah.
Aku membuka pintu dan mencari Ibu Rena, aku melihatnya sedang membersihkan sesuatu. Lalu aku menghampirinya dan segera menyerahkan satu keranjang apel itu. Ibu Rena menutup buku besar yang sedang ia bersihkan dan memasukkannya kedalam kotak lagi, lalu pergi menyimpan apel-apel itu. Aku mengambil buku besar hitam itu dan membukanya, di dalamnya terdapat banyak foto beberapa ballerina yang sedang menari. Salah satunya yang berwajah cantik itu sempat menyita pandangan mataku. Setelah beberapa lembar halaman yang kubuka, aku menemukan seseorang yang sedang berada di atas panggung dengan baju berwarna putih polos. Sepertinya aku mengenal baju itu, aku memperhatikan semua foto yang tersusun rapi di dalam buku itu.
Tanpa kusadari Ibu Rena sudah berdiri dari balik tubuhku, ia memegang perlahan bahuku. Aku tersentak kaget dan segera menutup buku itu. Ia mengangkat daguku dan memperhatikan wajahku

.
“Apa yang sedang kau fikirkan Aluna? Ada yang ingin kau tanyakan padaku?”. Tanya Ibu Rena kepadaku.

“Buku ini, aku belum pernah melihatnya. Aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi di rumah ini”. Ucapku kepada Ibu Rena.

“Kau anak yang sangat manis Aluna, kau sangat mirip dengan ibumu”. Ucap Ibu Rena.

“Ibuku..?? apa Ibu mengenal Ibu kandungku?? Bagaimana rupanya? Seperti apa orangnya?”. Ucapku penuh tanda tanda tanya.

“Ibumu orang yang sangat baik Aluna, ia catik sepertimu dan ia juga sangat berbakat sepertimu”. Ucap Ibu Rena.

“Lalu apakah orang yang ada di dalam foto ini adalah Ibu Jose? Baju yang ballerina itu pakai sama seperti yang Ibu Jose berikan padaku tadi malam”. Ucapku.

“Ya..baju itu milikku nak”. Ucap Ibu Jose dari arah ruangannya.

Ibu Jose menceritakan semua kisah yang telah ia pendam selama 20 tahun ini, sesuatu yang tak pernah kusangka sama sekali. Sebuah buku kenangan yang menyimpan sebuah cerita klasik tentang masa laluku. Ibu Jose menyembunyikanku dari kejaran orang-orang itu karena sebuah amanat yang ia genggam selama hidupnya untuk menjagaku hingga sebesar ini. Aku menitikkan air mata saat mendengrakan ceritanya, kini aku paham mengapa Ibu Rena tak pernah mengijinkanku untuk menari. Mungkin mereka takut sesuatu hal yang buruk akan menimpaku nanti, tapi kini mereka semua memberiku satu kebebasan seperti yang pernah almarhum ibuku katakan bahwa ia ingin melihatku tumbuh menjadi gadis yang pandai dan berhasil. Setelah aku mengetahui semuanya, aku berjanji kepada mereka semua akan menutup identitas sebenarnya tentang diriku dari orang banyak dan tidak melanggar semua yang telah Ibu Jose pinta.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, aku pergi mengambil pakaianku dan membuka isi kotak yang telah paman Jannet berikan tadi pagi. Sepasang sepatu ballet yang sangat indah, sepatu ini cocok sekali dengan baju yang Ibu Jose berikan padaku. Aku membawanya ke aula besar dan berlatih disana.
Aku berdiri di depan kaca besar sambil menggulung rambutku yang panjang, memperhatikan diriku lewat cermin kaca. Aku memutar musik dan mulai berlatih mengiringi irama yang mengalun perlahan. Seperti melihat seseorang dari balik kaca, ia menari menggerakkan beberapa gerakan yang sengaja ia tunjukkan kepadaku. Aku mengikutinya, dan tubuhku bergerak bebas seperti kapas yang tertiup oleh angin. Ia menggerakkan tubuhku kesana-kemari, lalu memutar dan berhenti. Aku menatapnya dari depan kaca, dia..wanita yang muncul tiba-tiba dan membawaku ke dalam sebuah tarian indah mengingatkanku kepada sosok yang telah diceritakan oleh Ibu Jose. Wanita itu, seperti Ibu kandungku. Air mata yang menetes membasahi pipiku menyita setiap kata yang ingin keluar dari bibirku. Aku tak mampu berucap sedikitpun dan hanya terdiam melihatnya, mataku tertuju pada satu arah sekitar lehernya.
Liontin yang sama persis seperti yang kupakai, aku mencoba meraba wajahnya dari depan kaca. Ia hanya tersenyum manis sambil memegang pundak kiriku, seperti sedang bermimpi tetesan air mataku berubah menjadi hujan yang datang membesar. Aku memejamkan mata merasakan sentuhan Ibu sambil menahan tangisku yang tak kunjung berhenti.

“Dengarlah alunan nada indah dalam hatimu.., melangkahlah selama kakimu masih tetap berdiri, dan bergeraklah seperti angsa menari disana. Kau yang terbaik anakku”. Ucapnya berbisik di telingaku.

Aku membuka mata perlahan, kulihat Dennis berdiri di sudut sana. Aku membalikkan badanku menghadapnya, Dennis datang menghampiriku dan kuceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia menghapus setiap tetesan air mataku dan mencoba menenangkanku kembali. Dennis berkata bahwa orang yang mencintaiku tidak akan pernah mati, tetapi ia akan terus hidup dalam hatiku. Aku mempercayainya, setelah kondisiku kembali seperti semula aku menunjukkan gerakan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dennis melihatku dengan kagum dan memberikan tepuk tangan saat musik berhenti. Aku senang melihat wajahnya yang begitu gembira, Dennis membawakanku makanan dan juga minuman. Rupanya ia pergi bekerja untuk mendapatkan beberapa keping koin untuk kami dan juga keperluanku audisi besok. Aku banyak mendengar ceritanya hari ini sambil memakan sebuah roti berukuran sedang yang sangat lezat. Lalu berlatih lagi ditemani oleh Dennis hingga senja kembali menjemput kami dan memberitahu bahwa malam akan segera datang.
Dennis duduk bersandar pada dinding tembok di bawah jendela, aku menghampirinya dan duduk bersamanya disana. Ia memberikan air minum karena wajahku yang terlihat lelah, lalu memberikan bahunya untukku bersandar.

“Gerakan yang indah, seindah orang yang menarikannya”. Ucap Dennis.

“Apa kau merayuku lagi??”. Ucapku kepadanya.

“Tidak, aku berkata yang sebenarnya”. Ucap Dennis perlahan.

“Jangan lagi Dennis”. Ucapku sambil tersenyum.

Kami pun tertawa bersama, Dennis mengantarku untuk mengganti pakaian sebelum kami kembali pulang. Aku membuka gulungan rambutku, membiarkannya tergerai bebas bergerak tertiup angin. Dennis memandangku tak berkedip sama sekali, aku mencoba menyadarkannya dengan lambaian tanganku. Dennis pun tersadar, raut wajahnya tersipu malu dan kami berdua pun tertawa. Dennis menggenggam tanganku sambil bersiul kecil, raut wajahnya terlihat bahagia hari ini. Sesekali aku memandangi wajahnya sambil berjalan, tapi seseorang menghampiri kami dan membuyarkan semua lamunanku. Seorang gadis belia yang terlihat sangat marah dan mencoba merebut pakaian yang akan kugunakan esok untuk audisi.

“Kau tak pantas untuk mengikuti audisi itu anak malang..!!”. ucapnya keras.
“Hey..apa yang kau katakan tadi..????!!”. Ucap Dennis kesal.

“Dia tak pantas untuk mengikuti audisi itu..! berikan itu padaku..!!!”. Ucapnya sambil merebut baju balletku.

“ Jangannnnn…!!!!!!”. Teriakku.

“Aku sangat membencimu Aluna.., jangan harap kau dapat meraih posisi itu!!”. Ucapnya sinis.

“Tidakk…bajuku…”. Ucapku panik.

“Alexa ..!!! kau sangat keterlaluan..!!”.Ucap Dennis marah.

“Aluna pantas mendapatkannya..!! ia telah merebut semuanya dariku..!! semua perhatian yang harusnya menjadi milikku telah ia ambil. Lalu posisi itu dan kau..!!”. Ucap Alexa menahan tangis.

“Dennis..??”. Jawabku lirih.

“Ya…Dennis, aku sangat mencintainya..!! tapi kau!! Selalu merebut hal yang seharusnya menjadi milikku, termasuk Dennis..!!”. Ucap Alexa.

Aku tak mengerti dengan apa ia katakan tadi, aku mengambil baju yang sudah Alexa rusak. Alexa pergi meninggalkan kami berdua, aku memandang Dennis ia berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Kami berdua pun pulang dan sesampainya di rumah Ibu Rena menghampiriku dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi hingga baju yang kupakai untuk berlatih menjadi robek. Dennis menceritakan apa yang telah kami alami saat berada di aula, Ibu Rena tidak percaya dengan hal itu begitupun Ibu Jose. Ibu Rena mengambil bajuku yang telah robek itu, dan kini aku tak punya baju lagi untuk mengikuti audisi esok hari. Kami pergi untuk membersihkan diri, aku duduk di dekat jendela memandang langit yang mulai bermunculan di langit sana. Dennis datang membawa makan malamku ke dalam kamar. Aku memberi mendorong kembali piring yang Dennis bawakan untukku tapi Dennis membujukku untuk makan beberapa sendok saja.
Aku bertanya padanya apa mungkin aku tetap mengikuti audisi itu dan berhasil mewujudkan semua mimpiku. Dennis tersenyum dan mengangguk, ia menyuruhku untuk membuka mulut. Aku menghabiskan makan malamku bersama Dennis, Jessie datang mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk. Aku mempersilahkannya masuk ke dalam, Jessie memelukku erat sambil berkata semua kan baik-baik saja. Aku tersenyum, Jessie menarik tanganku agar aku turun dan menemui Ibu Jose di dalam ruangannya. Dennis mendorong bahuku perlahan hingga sampai kami sampai di ruangan Ibu Jose. Semua berkumpul disana, si kecil Edward memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepadaku. Aku mengambilnya, Ibu Jose menyuruhku untuk membukanya. Aku membuka kotak itu dan mengambil baju yang sangat indah lengkap dengan sepasang sepatu yang cantik.

“Itu milik Ibumu nak, itu baju yang kau lihat di dalam foto. Aku sudah menyimpan selama beberapa tahun, kini ku kembalikan kepada pemiliknya.” Ucap Ibu Jose.

“Milikku..? baju indah ini milikku..? terima kasih Ibu..terima kasih banyak”. Ucapku senang.

“Indah sekali..”. Ucap Jessie.

“Cantiknya..indah ya?.., ya..indah”. Suara gaduh yang terdengar dari anak-anak lainnya.

Aku memasukkan kembali baju itu ke dalam kotak, beberapa anak meminta Ibu Jose untuk menceritakan sebuah cerita sebelum mereka semua tidur malam ini. Didekat perapian kami semua duduk mendengar sebuah kisah yang Ibu Jose ceritakan, cerita masih berlanjut hingga malam. Mareka semua masih dnegan setia mendengarkannya hingga cerita selesai. Suara hewan malam semakin terdengar, menandakan malam  sudah sangat larut. Ibu Rena mengantarkan anak-anak menuju kamar, aku menyimpan kotak ini di dalam lemari lalu berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Keesokan harinya, aku mempersiapkan semua keperluanku untu dibawa ke gedung pertunjukkan besar. Aku menggulung rambut panjangku dan mengikatnya dengan pita berwarna putih. Dennis menemaniku hingga aku benar-benar siap untuk tampil, banyak sekali gadis dari berbagai daerah yang ingin mengikuti audisi ini. Aku sangat gugup, mereka tampil dengan sangat baik. Ibu Rena dan juga Ibu Jose memberiku semangat, juga anak-anak yang lainnya yang telah memberikan semangat besar kepadaku. Juga Dennis yang telah setia menemaniku setiap hari, ia salah satu orang yang telah memberiku sebuah motivasi besar dalam hidupku. Dan juga untuk kedua orangtuaku yang telah tiada, aku tak ingin mengecawakan mereka disana.
Dennis menarik tanganku dan menyuruhku untuk segera mengganti pakaianku, aku mengambil baju yang ia pegang dan mempersiapkan diri. Aku bercermin di depan kaca besar, memandangi diriku yang terlihat sangat berbeda dengan pakaian ini. Aku memalingkan wajahku ari arah cermin, tapi seseorang berbisik di telingaku.

“Kau adalah yang terbaik , tunjukkan pada dunia kaulah yang terbaik”. Ucap suara itu.

Aku mengadahkan kepalaku ke depan kaca, kulihat seorang wanita berdiri disisiku sedang tersenyum dan menghilang seperti bayangan semu. ‘Ibu..’ ucapku lirih, seperti mendapat suatu energi yang sangat tinggi aku menjadi benar-benar percaya bahwa aku sanggup dan akulah yang terbaik. Aku keluar dari ruangan itu, berjalan perlahan menghmpiri Dennis yang terpesona melihat penampilanku hari ini.

“Kau sangat berbeda Aluna, kau sangat cantik”. Puji Dennis.

“Terima kasih Dennis”. Jawabku tersipu malu.

Aku melihat Alexa dari beberapa kerumunan para gadis, ia berjalan berjinjit dengan kedua ujung kakinya mengikuti alunan lagu. Suara tepuk tangan dari beberapa orang yang mengikuti audisi ini pun berhasil membuatnya tersenyum sangat lebar. Dan kini adalah giliranku, aku sedikit gugup. Semua mata tertuju padaku saat aku melangkah ke tengah panggung dan mulai menari bersama dentingan piano yang mengiringi setiap gerakan dari tubuhku. Waktu terus berlalu, aku masih memanjakan setiap mata yang melihatku menari disini. Sepertinya gerakan ini berhasil menyita setiap pandangan mereka, dan ketika suara piano perlahan berhenti, tepuk tangan meriah pun menyambutku. Aku tak percaya, bahkan seluruh ballerina itu pun memberikan tepuk tangan dan juga pujian untuk gerakanku tadi. Setelah semua mendapatkan giliran untuk menunjukkan kemampuan mereka kini tiba saatnya untuk mengetahui siapa yang akan menjadi sang ratu ballerina.
Jantungku tersa berdebar dengan cepat saat mennatikan hal itu. Bahkan aku tak mampu mendengar dengan baik ketika pelatih mengumumkan siapa yang terpilih. Aku hanya melihat semua berbalik ke arahku, setiap mata yang tertuju padaku sambil memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Para ballerina itu menghampiriku dan memberikan ucapan selamat. Aku bahkan baru sadar bahwa akulah yang berhasil bergabung bersama mereka ketika Dennis tersenyum sambil memberikan tepuk tangan kepadaku. Aku terpilih…aku msih tidak percaya dengan hal ini, aku adalah orang terpilih yang akan bergabung bersama mereka semua. Menari dan menjadi bagian dari mereka di panggung ini. Dennis datang menghampiriku dan memberikanku sebuah pelukan, aku sangat senang karena apa yang selama ini menjadi impianku sudah terwujud. Hari demi hari pun berlalu dengan cepat, kini tiba saatnya kelompok ballerina kami menyajikan sebuah tarian indah yang sudah dinantikan oleh orang banyak.
Para penonton terlihat sudah mulai memenuhi stadium pertunjukkan. Tampaknya mereka tak sabar ingin segera melihat pertunjukkan kami,  aku mencoba mencari keberadaan Dennis dan juga Ibu Jose yang akan datang hari ini. Tapi aku tak dapat menemukan mereka semua di tengah-tengah kerumunan orang banyak seperti ini. Aku duduk di depan meja rias merapikan semua riasan, dan membetulkan tali yang melingkar pada kedua kakiku. Tirai dibuka, penari awal sudah mulai beraksi. Tepuk tangan para penonton menyambut pentas kami semua, hingga saat dimana aku datang menuju panggung dan memulai setiap gerakan. Aku melangkah dan mengayunkan kedua tanganku diantara para penari yang mengiringiku di samping kanan dan juga kiri.
Berlarian kesana-kemari berjalan dengan kedua ujung kakiku mengayunkan perlahan kedua tanganku dan diakhiri dengan putaran tubuhku diantara mereka semua yang mulai meninggalkan panggung. Aku berhenti dan memberikan salam penghormatan kepada penonton, tirai pun tertutup serentak dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Semua pun bersorak dan memelukku karena keberhasilan pentas kami. Pelatih memberikan satu jempol tanda kesuksesan kami semua. Aku duduk diantara kursi-kursi di dekat ruangan, seseorang dengan sebuket mawar merah datang menghampiriku. Berlutut dan menurunkan buket bunga itu dari wajahnya, ‘Tarian yang sangat indah..bunga yang cantik untuk nona yang cantik’ ucap Dennis sambil memberikan sebuket bunga itu kepadaku.
Aku menerima pemberian Dennis dan memeluknya erat. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku, ia berkata ‘Bersediakah kau menjadi pendampingku? Sekarang dan selamanya..?’ ucap Dennis lembut. Dengan wajah merona aku menjawab ‘Ya..aku bersedia’. Dan aku pun memeluknya erat dengan penuh kebahagiaan sambil melihat orang-orang yang kusayangi di hadapanku yang juga merasakan kebahagiaan yang kurasakan saat ini. ‘Terima kasih Ibu Jose, Ibu Rena..dan yang lainya..’ ucapku dalam hati.

-The End-

Aluna ….

sepatu

Terbanglah seperti burung lepas..
kepakkan sayap indah seperti angsa menari disana..
Karena impian..
bukanlah sebuah impian ketika tubuhmu bergerak…

            Kedua tirai merah pun melintang seiring dengan riuhnya tepuk tangan dari audiens yang melihat pertunjukan ballet hari ini, sebuah impian besar yang sangat aku dambakan sejak lama. Oh tuhan, mampukah aku menari dengan indah seperti angsa putih yang menari disana? Lamunanku semakin menjadi-jadi ketika aku membayangkan betapa indahnya gaun putih yang akan kukenakan, juga dengan sorotan lampu yang mengiringi setiap gerakan demi gerakan yang akan memukau setiap mata yang memandangku malam itu. Aku menari, menari sepanjang malam melangkahkan kaki kesana-kemari. Berlarian dan mengayunkan tangan seperti seekor angsa yang sedang menari. Tapi lamunan indahku hilang seperti ilusi semata ketika seseorang memanggil namaku. ‘ Aluna..! ayo kita pulang, hari sudah larut malam‘ aku berusaha mencari sumber suara itu, ternyata Dennis yang memanggilku. Anak itu, anak yang selalu memakai topi dan juga senang memakan apel merah itu adalah teman yang paling setia. Kami dibesarkan di panti asuhan, karena nasib kami yang benar-benar malang. Setiap anak yang berada disana dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Ibu Jose, dia seorang malaikat yang penuh dengan cinta dan juga seorang pemilik senyuman yang indah. Tangan lembutnya yang telah membesarkanku hingga sebesar ini, begitu juga dengan Dennis. Aku berlari menghampiri Dennis, Ibu Jose pasti sangat khawatir dengan kami berdua, dengan segera kami berdua pulang ke rumah.
Dennis sangat ahli dalam memanjat pohon, kamar kami ada di lantai dua, Dennis pergi memanjat pohon untuk masuk kedalam kamar, sedangkan aku tak mungkin mengikuti jejak Dennis karena aku tak mahir dalam hal itu. Dengan perasaan sedikit takut aku berjalan perlahan mencoba meraih tangan pintu yang sebentar lagi kusentuh. Tapi, pintu terbuka dengan cepat dan seorang wanita bertubuh subur sudah berdiri dengan tatapan tajam tertuju padaku. Ya, itulah Ibu Rena yang biasa membantu Ibu Jose untuk mengasuh anak-anak panti. Aku terkejut dan tertunduk takut setelah melihatnya, Ibu Rena mengangkat daguku searah dengan tatapannya dan mulai sedikit berbicara ‘ apa kau pergi melihat para penari-penari itu??’. Rasanya lidahku kelu untuk menjawab pertanyaannya, jantungku mulai berdebar kencang, sepertinya aku tidak aman malam ini. Apa aku akan diberi hukuman? Atau tidak sama sekali? Semua pertanyaan yang timbul menumpuk dan bergumpal menjadi satu dalam hati. Belum sempat aku menjawab, suara langkah terdengar dari arah belakang Ibu Rena dan itu Ibu Jose dengan membawa lilin ditangannya mencoba menerangi wajahku yang mulai berkeringat.

“ Owhh.. kaukah itu Aluna ..? “. ucap Ibu Jose sambil membenarkan kacamatanya.

“ Ten..tentu Ibu, ini aku..Aluna..”. jawabku gugup.

“Sepertinya anak nakal ini pergi melihat pertunjukkan di gedung yang megah itu nyonya “. Sela Ibu Rena kepada Ibu Jose.

“ Betulkah itu Aluna? Kau pergi lagi ketempat itu? “. Tanya Ibu Jose.

“Ma..maafkan aku Ibu.. aku hanya ingin melihat para penari itu, aku ingin seperti mereka”. Jawabku.

“Berhentilah bermimpi Aluna, kita ini hanya orang biasa, mana mungkin kau bisa berada di tempat para anak bangsawan itu. Lagipula kita tidak punya cukup uang untuk menyekolahkanmu kesana.” Ucap Ibu Rena.

“Sudahlah..ayo..kembali ke kamarmu dan beristirahatlah nak”. Ucap Ibu Jose sambil memegang bahuku.

“Baik Ibu, selamat malam..”. ucapku kepada Ibu Jose.

“Selamat malam nak, semoga mimpimu indah malam ini”. Jawab Ibu Jose.

Senyuman itu, selalu dapat membuatku merasa tenang dan nyaman. Aku berjalan menuju kamarku, membuka pintu dengan sangat pelan karena takut membangunkan adik-adikku yang sedang tertidur lelap. Aku memandangi wajah mereka satu persatu hingga si kecil Edward, aku mencium keningnya mengucapkan selamat malam sebelum aku meniup lilin yang ku pegang dan pergi ketempat tidurku sendiri. Aku berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kedua bahuku, sedikit membayangkan hal yang baru saja kulewati hari ini sebelum aku memejamkan mata, semua terasa indah saat membayangkan bagaimana kaki ini mampu berpijak diatas lantai kayu yang mengkilap itu, dan menari berputar mengikuti alunan lagu yang mengiringi setiap gerakan tubuhku. Semua hayalan pun melebur menjadi satu saat mataku terpejam dan berubah menjadi hayalan nyata dalam mimpi indahku malam ini.
Kicauan burung mulai terdengar, cahaya mentari yang menyusup dari balik kaca jendela berhasil membangunkanku pagi ini. Kecupan manis mendarat di pipi kananku, si kecil Edward sudah memandangiku sejak tadi. Suaranya yang sangat khas tak mungkin aku lupakan. Setiap pagi yang selalu menyapaku terlebih dulu adalah Edward, aku membuka mata dan melihat wajah mungilnya sambil mengucapkan selamat pagi padanya, tapi seperti biasa Edward tidak pernah mengatakan apapun selain senyuman yang keluar dari kedua bibirnya. Aku bangun dari tempat tidurku dan membereskan tempat tidurku, lalu kubisikkan kepadanya bahwa aku akan segera turun kebawah setelah aku selesai membersihkan diriku. Edward mengerti apa yang aku ucapkan dan berlari menuju meja makan. Setelah semua beres aku berdiri di depan kaca, menyisir rambut hitam panjangku dan membiarkannya tergerai indah. Dileherku, tergantung sebuah liontin berwarna biru. Ibu Jose pernah berkata bahwa liontin ini adalah milik ibuku, tapi aku tak pernah tau seperti apa wajahnya atau bagaimana pribadinya, karena setiap pertanyaan selalu mereka jawab dengan senyuman.
Aku turun menuju ruang makan, Dennis membantu Ibu Rena membagikan makanan kepada anak-anak yang lain. Aku duduk disebelah Jessie, ia nampak kesulitan untuk mengancingkan kancing bajunya. Aku berbisik perlahan menawarkan pertolongan kepadanya, Jessie mengangguk dan sedikit membelakangiku utnuk menujukkan kancing bajunya yang belum terkancing. Suara gaduh masih terdengar ditelingaku, suara teriakan anak-anak yang sudah tak sabar ingin mendapatkan jatah makanan mereka pagi ini. Keceriaan yang dimulai setiap pagi dengan suasana yang ramai nampaknya mampu membuat Ibu Jose tersenyum geli karena ulah anak-anaknya. Ada yang merengek, ada yang berebut makanan, ada yang menarik-narik baju Dennis, ada yang tertawa,  dan ada pula yang hanya diam tersenyum melihat keadaan sekitar.

“Ini untukmu Aluna”. Ucap Dennis sambil memberikan makanan.

“Terimakasih…”.Ucapku sambil tersenyum.

“Baik anak-anak ayo diammm…”.teriak Ibu Rena.

Serentak semua pun terasa hening, Ibu Jose memimpin do’a sebelum kami mulai memakan makanan kami semua. Walaupun hanya makanan sederhana, tapi kami semua bersyukur masih bisa mendapatkannya. Setelah semua selesai beberapa anak pergi keluar rumah, ada yang merengek kepada Ibu Jose, dan ada pula yang sibuk belajar membaca buku bersama Ibu Rena. Aku merapikan piring-piring yang kotor dan membersihkannya, sedangkan Dennis bertugas menyapu rumah hingga halaman depan. Imajinasiku terulang saat aku melihat piring-piring ini, senandung kecil keluar dari bibirku. Kulangkahkan kaki kesana kemari mengikuti senandung lagu kecil yang kunyanyikan hingga semua piring tercuci dengan bersih dan tertata rapi di tempatnya. Langkahku terhenti karena tepuk tangan Dennis. Ia mengejutkanku, Dennis datang menghampiriku dan mengajakku untuk pergi bersamanya. Aku bertanya kemana kami akan pergi, tapi ia tak menjawabnya.
Aku mengikuti kemana kaki Dennis melangkah, banyak orang yang kami temui hari ini. Aku senang melihat keramaian, paman Jannet memanggil kami berdua dengan melambaikan kedua tangannya. Dennis menarik tanganku dan berlari menghampiri paman Jannet. Paman Jannet memberi kami berdua dua buah apel merah yang segar, dan ia berkata bahwa mulai hari ini ada sekelompok penari ballet yang berlatih di aula besar untuk sebuah pertunjukkan hebat nanti. Tentunya ia tau bahwa aku senang menari, mungkin Dennis ingin memberiku sedikit kejutan sehingga ia tak memberitahuku  kemana ia akan membawaku. Tentu saja aku sangat senang mendengar kabar ini, dengan segera kami berdua pergi menuju aula besar. Dari koridor aula sudah terdengar suara dentingan piano, aku berjalan perlahan diantara jendela-jendela besar bernuansa eropa itu melihat para ballerina berlatih. Kedua mataku seolah terpaku pada sosok gadis yang sedang dikelilingin oleh ballerina lainnya hingga langkahku terhenti. Aku bahkan tak berkedip sedikitpun sampai Dennis mengagetkanku dnegan tepukan yang mendarat di bahuku.

“Berlatihlah sesuai dengan keinginanmu, ikuti gerakan mereka”. Ucap Dennis.

“Disini …??”. tanyaku kepadanya.

“Ya, tentu..ayolah Aluna, menarilah seperti mereka. Aku akan melihatmu dari sini”. Ucap Dennis.

“Baik.., lihat ini..”. ucapku pada Dennis.

“Kau yang terbaik Aluna..”. Ucap Dennis sambil memakan apelnya.

Aku melangkahkahkan kaki mengikuti irama lagu, mengangkat tanganku dan berjalan dengan kedua ujung kakiku. Aku mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh para ballerina itu. Aku berlatih hingga senja datang menjemput kami sore ini, dentingan piano sudah tak terdengar lagi, beberapa gadis penari itu sudah mulai keluar aula dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Dennis memberi isyarat kepadaku agar segera pulang, aku juga tak mungkin memaksakan diri untuk tetap berada di aula ini. Aku mengangguk dan kami berdua pun pulang ke rumah.

“Terimakasih sudah membawaku ke aula itu”. Ucapku kepada Dennis.

“Yupss… dengan senang hati nona..”. Ucap Dennis menggoda.

“Ayo kita datang lagi besok…! mau kan..?”. Pintaku kepada Dennis.

“Tentu.. ayo, kita pulang”. Ucap Dennis sambil tersenyum.

Kami pun berlarian saling mengejar satu sama lain, senja yang indah dan hari yang hebat untuk kulewati bersama Dennis. Canda tawa lepas menari di udara, kami melewati taman bunga yang begitu cantik. Dennis memberikanku beberapa tangkai untuk kami bawa pulang ke rumah. Jauh sebelum kami berdua sampai ke rumah, kami melihat ada dua orang berpakaian hitam yang keluar dari dalam rumah kami. Dennis mencegahku untuk melangkah, kami memperhatikan kedua orang itu dari balik semak-semak. Ibu Jose terlihat tidak baik disana, Ibu Rena masih memegangi tubuh Ibu Jose. Aku jadi sedikit cemas, mungkin sesuatu yang buruk sedang menimpa mereka sekarang. Dennis menggenggam tanganku dan membawaku masuk kedalam rumah melewati pintu belakang. Hatiku semakin bertanya-tanya setelah aku melihat adik-adikku yang ketakutan berdiri dan saling memegangi satu sama lain.

“Ibu apa yang sudah terjadi disini? Siapa orang itu?”. Tanyaku kepada Ibu Jose.

“Tidak ada yang terjadi disini nak, hanya mereka para penagih hutang”. Jawab Ibu Jose.

“Benarkah Ibu? Jangan membohongiku bu..”. Ucapku.

“Tidak ada apa-apa Aluna, tidak ada yang terjadi di rumah ini. Pergilah, bersihkan dirimu”. Jawab Ibu Rena.

“Tapi.., mengapa mereka semua ketakutan bu..? aku sangat khawatir. Apa kita harus pindah tempat lagi??”. Tanyaku kepada Ibu Rena.

“Tidak Aluna.., kita tidak akan pindah lagi, pergilah..”. Pinta Ibu Rena.

“Baik Ibu..”. Jawabku.

Aku pergi untuk membersihkan tubuhku, Ibu Rena membawa anak-anak yang lain menuju kamar. Sedangkan Dennis mengantarkan Ibu Jose kembali ke ruangannya. Entah apa yang sedang mereka sembunyikan dariku, aku mencium sedikit keganjalan di rumah ini. Aku menyandarkan tubuhku di dalam bak mandi, merasakan air yang membasahi tubuhku. Menghilangkan kelelahan setelah seharian ini beraktifitas. Aku mengangkat liontin berwarna biru dengan tangan kananku, terdapat sebuah tulisan di dalamnya. Sebuah ukiran cantik bertuliskan namaku disana, aku memperhatikan liontin ini sambil terus bersandar di dalam bak mandi hingga muncul semua pertanyaan yang harus kuselidiki dan sudah saatnya aku tau apa sebenarnya terjadi.
Di depan tungku perapian Ibu Jose duduk sambil memegang tangan Dennis, ia sedikit mengisahkan sebuah kisah tentang seorang gadis ballerina terkenal yang berparas cantik dan sangat dikagumi oleh semua pria yang tinggal disana. Kepiawaiannya dalam menari sudah sampai terdengar ke penjuru negeri. Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria berkebangsaan Inggris yang ingin melihat tarian indah dari seorang gadis berparas cantik itu. Di dalam gedung pertunjukkan itu ia melihat seorang ballerina yang tengah berdiri bersiap menari mengikuti suara musik yang mengalun indah. Ia terpana oleh gerakan sang ballerina, sehingga ia menetap tinggal disini hanya untuk melihat setiap pertunjukkan yang diberikan oleh sang ballerina. Karena merasa sangat tertarik, ia mencoba mencari tau lebih dalam tentang gadis berparas cantik itu. Beruntung, seorang penjual buah memberitahunya tentang kediaman orang yang dicarinya. Dengan sebuah kertas kecil di tangannya, ia mencari alamat yang dituju hingga kedua kakinya berpijak di sebuah desa kecil dekat bukit. Saat kakinya berpijak di sebuah desa, ia melihat seorang gadis yang sedang menari di sebuah tempat terbuka yang cukup lumayan besar.
Sepertinya dewi fortuna memberikan keberuntungan lebih kepadanya, sehingga mereka dipertemukan di sana. Gadis itu terkejut oleh kedatangan seorang pria tampan yang sedari tadi berdiri melihatnya berlatih menari. Dengan perlahan ia berjalan mendekat dan memperkenalkan diri, ia menyebut namanya ‘Christopher Vallen’. Dengan wajah yang tersipu malu gadis itu pun memperkenalkan dirinya.

“Ibu.., siapa nama gadis itu?”. Tanya Dennis penasaran.

“Gadis itu bernama Alena Van”. Jawab Ibu Jose.

“Lalu, bagaimana kelanjutan kisahnya?”. Tanya Dennis kembali.

Ibu Jose tersenyum dan melanjutkan ceritanya. Setelah mereka saling memperkenalkan diri, mereka pun sering melewatkan waktu bersama, bahkan Christopher sering merangkaikan bunga mawar untuk Alena dan menemaninya berlatih ballet untuk pertunjukkan. Tanpa pernah Alena sadari bahwa Crishtopher jatuh hati padanya sejak pertama melihatnya, mereka berdua pun akhirnya saling jatuh cinta dan berniat untuk melangsungkan pernikahan mewah di kota ini. Tapi, cobaan besar menimpa mereka berdua. Kabar pernikahan itu sampai ke telinga orang tua Christopher. Mereka mengirimkan beberapa orang untuk menjemput paksa Christopher pulang, karena mereka berdua tau hubungan mereka sedang terancam, maka mereka berdua memutuskan untuk pergi meninggalkan desa itu dan menetap di suatu tempat yang tidak diketahui oleh orang banyak.
Kehidupan mereka sangat bahagia setelah mereka berhasil menikah. Bahkan semuanya terasa lengkap ketika Alena dinyatakan sedang mengandung anak mereka. Buah hati yang mereka nantikan semenjak pernikahan mereka berlangsung. Suatu hari, saat hujan badai datang dan pada saat itulah waktunya Alena melahirkan, keberadaan mereka diketahui oleh utusan orangtua Christopher yang selama bertahun-tahun mencarinya. Christopher yang sedang pergi, dan mengetahui kabar itu langsung segera pulang dan berniat membawa Alena keluar dari rumah mereka, suasana berubah menjadi sangat menegangkan ketika perjalanan mereka sempat terhalang oleh hujan badai yang besar itu. Tetapi mereka berhasil pergi meninggalkan rumah itu dan menuju suatu kota dimana tempat seorang wanita tinggal. Wanita itu adalah sahabat yang pernah berjuang bersama dengan Alena dalam sebuah teater, namun ia berhenti karena kakinya mengalami cedera hebat dan tak mampu untuk menari lagi. Mereka berdua berhasil selamat dari ancaman hujan badai itu juga orang-orang yang sedang memburu mereka selama bertahun-tahun. Mereka berdua mendatangi sebuah rumah tua yang tidak terlalu besar. Ketika wanita itu membuka pintu, betapa terkejutnya ia melihat kedatangan Alena dan Christopher dengan tubuh yang basah kuyup, mereka kedinginan dan wanita itu melihat betapa merintihnya Alena karena sudah saatnya untuk melahirkan. Dengan segera wanita itu membantu proses persalinan Alena, Christopher dengan sabar menemani Alena yang terus berjuang antara hidup dan mati. Masa-masa sulit mampu Alena lewati, lahirlah seorang bayi yang sangat cantik menangis di pangkuan wanita itu. Terlihat raut wajah Christopher yang sangat bahagia atas kelahiran putri pertama mereka, wanita itu memberikan bayi mereka. Alena tersenyum bahagia, tak hentinya ia mencium bayi mungil itu. Mereka adalah keluarga yang bahagia jika saja mereka masih bersama hingga kini, setelah membiarkan mereka bertiga merasakan beberapa saat kebahagiaan sebelum Alena pergi, Alena mengucapkan rasa terimakasihnya kepada wanita itu. Christopher memberikan sebuah liontin berwarna biru, di dalamnya terukir sebuah nama untuk anak mereka berdua. Mungkin karena Alena merasakan waktunya takkan lama lagi, ia memintaku untuk berbicara empat mata di dalam kamar itu. Christopher menggendong bayinya, menghangatkan anaknya dekat perapian. Sedangkan kami berdua bersama di dalam kamar yang sunyi, sebuah kamar yang menjadi saksi hidup seorang ballerina cantik yang terkenal. Dennis memperhatikan Ibu Jose dengan wajah serius, Ibu Jose tetap menggenggam tangan Dennis dan sesekali membelai kepala Dennis lalu kembali melanjutkan cerita yang sangat berkesan itu. Alena meminta wanita itu untuk merawat putrinya yang masih sangat kecil, ia meminta supaya anaknya dibesarkan dengan penuh kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri. Karena merasa iba wanita itu pun menyetujui permintaan Alena. Tapi yang sangat mengejutkan, ketika Christopher datang membawa bayi kecilnya menghampiri Alena, saat itulah Alena melihat putrinya untuk yang terakhir kali karena pendarahan hebat yang dialami Alena akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir. Suasana berubah menjadi sangat mengharukan, penuh duka dan rasa kehilangan bagi wanita itu dan juga bagi Christopher tentunya. Diletakkannya bayi mereka disamping Alena, dipeluknya mereka berdua sambil menahan tangis yang tak hentinya keluar dari pelupuk mata Christopher. Pemakaman pun dilaksanakan keesokan harinya, berat rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai dan sayangi. Belum lagi setelah ditinggal kepergian Alena, Christopher menjadi sangat terpukul.
Christopher selalu mendatangi makam Alena dan memberikannya rangkaian bunga mawar sama seperti yang ia lakukan dulu sewaktu mereka masih bersama. Suatu hari, Christopher membawa putrinya pergi dari rumah wanita itu. Setelah beberapa hari mereka pergi dan tak terdengar lagi, wanita itu pergi membeli beberapa sayuran untuk dimasak. Dan saat itulah ia mendengar bahwa ada seorang pria yang hampir saja terbunuh di dekat tebing jurang sambil membawa seorang bayi. Sempat kaget wanita itu merasa bahwa orang yang sedang dibicarakan itu adalah Christopher dan putrinya, langsung saja ia mencari tau keberadaan Christopher dan mencarinya. Setelah beberapa hari mencari namun tak juga mendapatkan hasil, ia tetap kesulitan utnuk mendapatkan jejak Christopher dan juga putrinya. Bulan terang benderang, ia berharap Christopher dan putrinya akan baik-baik saja diluaran sana, ia melamun di atas meja memandangi ke arah luar jendela dan tertidur dengan nyenyaknya. Suara ketukan pintu yang keras membangunkan tidurnya, wanita itu membuka pintu dan ia melihat Christopher juga putrinya datang dalam keadaan selamat, hanya saja Christopher megalami luka yang sangat parah pada kaki kirinya. Karena luka yang sangat parah itu, Christopher meminta wanita itu membawa anaknya pergi dan merawatnya karena ia tak sanggup untuk merawatnya lagi. Diserahkannya bayi mungil yang sedang tertidur pulas kedalam pangkuan wanita itu sambil meminta permohonan yang terakhir kepadanya untuk dimakamkan disamping makam Alena, ia juga berpesan jangan sampai bayi ini jatuh ketangan keluarganya karena ia takut bayi ini diperlakukan dengan tidak baik disana.    Christopher menghembuskan nafas yang terakhir setelah mencium putrinya,isak tangis yang mengiringi kematian Christopher malam itu membuat wanita itu bersumpah pada dirinya sendiri akan merawat bayi malang yang sedang berada di pangkuannya sekarang dan ia akan menutupi identitas keluarganya. Raut wajah Dennis berubah seketika saat melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Ibu Jose.

“Ibu.., mengapa Ibu menangis? Lalu siapa wanita itu? Dan mungkinkah bayi itu..?”. Tanya Dennis.

“Ya..Dennis..wanita itu adalah aku, dan bayi malang itu adalah Aluna”. Ucapnya sambil menahan tangis.

“Aluna Van Vallen.., itu nama asli dari orang yang selama ini bersamamu nak”. Ucap Ibu Jose.

“Ja..jadi.. Aluna.. putri kandung mereka? Jadi ini alasan Ibu agar aku selalu menjaga Aluna, dan menemaninya kemanapun ia pergi?”. Tanya Dennis.

“Ya..putraku.., aku sengaja mengganti namanya menjadi Aluna Jensen. Aku mengganti namanya denga namaku karena aku tak ingin sesuatu hal yang buruk menimpanya kelak”. Ucap Ibu Jose.

“Aku takkan membiarkannya bu..Ibu tenang saja”. Ucap Dennis mengecup kening Ibu Jose.

“Tentu putraku..Ibu sangat percaya padamu”. Ucap Ibu Jose memandangi wajah Dennis.

Dennis pun menceritakan kemana sebenarnya mereka pergi, dan setelah Ibu Jose mengetahui hal itu, ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil suatu kotak berukuran sedang dan kembali duduk di kursinya dekat perapian. Dennis yang penasaran akan hal itu menanyakan apa isi dari kotak itu, tapi Ibu Jose hanya tersenyum dan memberikan kotak itu padanya. Ia berpesan agar kotak ini kelak diberikan kepada Aluna pada saat yang tepat, karena isinya merupakan pakaian dan sepatu ballet yang pernah dimiliki oleh ballerina ternama di negeri ini.
Denis bergumam menyebutkan betapa indahnya baju itu jika dikenakan olehku. Ia kembali menyimpannya ke dalam kotak dan menutupnya, lalu berpamitan untuk pergi melihatku. Ibu Jose tersenyum dan membelai wajahnya lagi, sebuah kecupan dan pelukan diberikan kepada Dennis sebelum semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam. Setelah semuanya rapi, Dennis menghampiriku yang sedang melamun di depan jendela kamar. Ia menepuk bahuku dan mengajakku turun menuju meja makan. Semua pun berkumpul seperti biasa, Ibu Rena memberikan masing-masing anak makanan. Mereka pun memakan makan malamnya tanpa suara gaduh hingga makan malam selesai. Dennis memperhatikanku lewat tatapan matanya yang semakin tajam, ia berkata apa yang sedang kurasakan, apa aku sedang sakit atau tidak. Tampaknya malam ini sesuatu telah menggangu fikiranku sehingga aku terus melamun sedari tadi dan membuat orang di selalu berkata ‘ada apa denganmu?’. Aku tersenyum dan berkata bahwa ‘aku baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan’. Dennis mengangguk dan memberiku sebuah apel merah, lalu memberi isyarat untuk pergi ke atap rumah. Menurutnya malam ini cukup indah, aku memakan apel pemberian Dennis sambil memandangi langit dari kejauhan sana. Dennis nampaknya begitu tenang malam ini, entah apa yang dia rasa tapi aku merasa sangat nyaman berada disisinya malam ini. Aku memandangi senyuman yang terpancar dari raut wajahnya, ia menoleh ke arahku dan bertanya apa aku mau mendengrakan sebuah kisah cinta indah yang abadi hingga akhir hayat. Aku mengangguk sambil menikmati setiap gigitan apel yang kumakan. Dennis memandang langit dan juga bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di atas sana, perlahan dan pasti ia mulai menceritakan sebuah kisah yang menarik untuk didengarkan. Kupeluk kedua kakiku sambil memperhatikan Dennis yang sedang bercerita, sebuah kisah yang sangat mengharukan dan romantis tetapi juga tragis bagi kelangsungan anak dari cerita yang Dennis kisahkan padaku. Bintang dilangit semakin terang, hari sudah semakin larut. Bersamaan dengan certa Dennis yang hampir selesai, aku pun mengantuk dan mulai memeluk erat kedua lututku ini dengan kepala yang tersandar diantara dinding. ‘kisah yang indah Dennis, terimakasih sudah menghiburku’. Ucapku kepada Dennis. Ia tersenyum dan mengantarkanku ke kamar, aku mendegar Dennis mengucapkan selamat malam dan aku pun tertidur dengan cepat.
Mentari datang menyambut sang pagi, aku membuka jendela kamar dan menghirup udara segar pagi ini. Seperti biasanya, aktifitas selalu dimulai sejak pagi hari. Suara sapu terdengar dari arah halaman depan, si kecil Edward mencoba membantu Dennis yang sedang membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan di tanah. Dua anak lainnya berlarian diantara tumpukan daun kering, aku masih memperhatikan mereka yang sedang asik berada diluar sana. Aku merapikan kamar, dan mencuci semua pakaian mereka lalu menjemurnya di belakang rumah. Semua pekerjaan selesai dan aku sama sekali belum melihat Ibu Jose juga Ibu Rena pagi ini, semua anak sudah siap berada di meja makan menanti sarapan pagi yang lezat. Aku dan Dennis merapikan meja, membagikan makanan kepada mereka. Aku berbisik kepada Joni kemana Ibu Jose dan Ibu Rena, ia masih saja sibuk dengan bukunya yang tebal lalu menutup bukunya dan berkata ia tidak tahu sambil menggelengkan kepala. Aku duduk disamping Dennis menghabiskan makananku lalu setelah itu membersihkan piring yang berserakan dan juga merapikan meja. Semua hampir selesai kubereskan, aku mendengar gelak tawa dari dalam rumah. Semua berteriak memanggil nama Dennis, sepertinya sedang ada pesta kecil disana sehingga sedikit membuatku penasaran kesenangan seperti apa yang sedang Dennis buat.
Aku melangkah perlahan melihat mereka semua dari balik dinding, musik instrumen mengalun pelan. Ia memutar tombol volume ke kanan. Kini suara dentingan piano yang beradu dengan petikan dawal gitar terdengar lebih jelas. Ia tersenyum. Musik. Mesin waktu yang paling sederhana. “Dansa?”. Ucap Dennis kepadaku. Semua anak memperhatikanku, aku tersipu malu dan menggelengkan kepala. Tetapi mereka merajuk dan memaksaku untuk ikut berdansa bersama mereka. Dennis mengulurkan tangan, aku meraihnya. Ia menarikku kedalam pelukannya dan melangkah bersama mengikuti alunan dansa. Aku tak tahu apa yang kurasa saat itu, aku benar-benar sangat gugup dan ini merupakan untuk pertama kalinya aku berdansa dengan Dennis. Kami dan juga yang lainnya berdansa berputar hingga semua terhenti dengan kedatangan Ibu Jose dan Ibu Rena yang berdiri di depan kami semua dan bertepuk tangan.
Semua tertawa bahagia, Dennis menghentikan musiknya dan mereka semua pun pergi. Dennis mengajakku untuk pergi ke aula besar hari ini, aku hampir saja melupakannya. Dengan segera kami pergi kesana, kami melewati taman bunga dan juga sungai kecil yang indah. Ia menarik tanganku dan membuatkanku sebuah mahkota  bunga yang sangat cantik.

“Untukmu nona..”. Ucap Dennis sambil meletakkannya di atas kepalaku.

“Terimakasih..mahkota yang indah Dennis”. Ucapku kepada Dennis.

“Dan ini bunga yang cantik, untuk nona yang sangat cantik”. Ucap Dennis sambil tersenyum.

Aku tertunduk malu dan mengambil sekuntum bunga itu. Kami saling bertatapan dan saling melemparkan senyuman. ‘Kau pria yang sangat baik’. Ucapku dalam hati. Aku menarik tangan Dennis dan pergi menuju aula besar untuk berlatih disana, beruntung kami tidak terlambat sama sekali. Suara pelatih mulai terdengar, aku melihat dari balik jendela kaca seperti biasanya. Hitungan dimulai dan dentingan piano pun terdengar, aku mengikuti gerakan demi gerakan tapi tunggu, semua berhenti seketika saat seseorang datang dan memberikan sepucuk surat kepada pelatih. Wajahnya tampak resah, aku memperhatikan dan mencoba membaca sesuatu yang telah terjadi disana. Dennis mendekatiku dan ikut melihat apa yang telah terjadi disana. Seseorang tidak berada disana, ya.., dia gadis yang berada di tengah-tengah mereka sebagai peran utama. Ia tak datang, suara gaduh pun mulai terdengar, salah satu dari mereka kemana gadis itu pergi. Dengan wajah yang sangat lesu ia menjawab dengan tegas bahwa gadis itu mengalami kecelakaan pada kakinya sehingga ia tak dapat menari. Semua panik dan terkejut mendengar kabar yang buruk bagi tim mereka, sepertinya pelatih harus menyeleksi lagi seorang penari untuk menjadi peran utama.
Dennis tersenyum lebar padaku, ia berkata mungkin aku memiliki satu kesempatan untuk mendapatkan tempat itu, karena pelatih akan membuka audisi bagi siapapun yang memiliki kemampuan menari ballet untuk mengikuti audisi itu. Ini impian setiap gadis yang berada di sini untuk dapat bergabung menjadi seorang ballerina terhebat dari ballerina terhebat yang telah terseleksi untuk masuk menjadi anggota klub ballet itu. Jika memang aku diberi kesempatan maka aku akan mencobanya. Sementara waktu semua latihan pun dihentikan dan mereka semua terduduk lemas dan juga terlihat sedikit resah karena hal ini.

bersambung…